Selamat Datang di situs TanyaIslam.Net. Web ini berisi kumpulan tanya jawab seputar masalah dalam keislaman dan Anda pun bisa ikut mengirimkan pertanyaan kepada kami..

banner2
banner3
banner1


PERTANYAAN

Apabila kita menerima bahwa Wâjibul Wujud adalah Basith (tunggal, tak berkomposisi, tak bercampur, dan tak berangkap dari sesuatu manapun) dalam dzat-Nya dan tidak bisa diasumsikan adanya satupun maujud selain-Nya, lalu bagaimana Mumkinul Wujud bisa digambarkan sebagai sebuah wujud yang mendampinginya?


JAWABAN

Dengan
Nama-Nya Yang Mahatinggi


Dalam menjawab pertanyaan Anda harus dikatakan bahwa para pendukung Hikmah Muta’aliyah yang sepakat terhadap kesatuan gradasi
wujud, pada langkah awal mengklasifikasikan kejamakan wujud (multiplicity of
being, keragaman wujud)
di alam dalam dua kelompok, salah satunya adalah
kejamakan yang tidak memiliki kesamaan apapun (mutabayyinah) dan yang
lainnya adalah kejamakan  yang berpijak
pada kesatuan (multiplicity within unity, kejamakan dalam kesatuan).


Contoh yang
terdapat dalam realitas ini seperti dalam angka. Sebagaimana dalam angka
terdapat dua jenis keragaman atau kejamakan yaitu keberagaman dari sisi
“yang terhitung”, seperti sepuluh kitab, sepuluh pena, dan
sebagainya, dan keragaman dari sisi angka itu sendiri (yang berpijak
pada kesatuan), seperti keragaman yang terdapat pada angka sepuluh, dua
puluh, tiga puluh, empat puluh dan sebagainya, karena unsur-unsur yang setara
dan berbeda dari angka-angka tersebut terdapat dalam angka itu sendiri dan
tidak ada satupun hal-hal asing di antara angka-angka tersebut yang bisa
menyebabkan keragamannya tidak dapat disatukan atau dikembalikan pada angka
asli.


Dalam wujud pun
terdapat dua bentuk keragaman, yang pertama adalah keragaman subyektif (katsrat
maudhu’i)
dari sisi kuiditasnya (mahiyah), oleh karena itu tidak
memiliki unsur-unsur kesatuan, seperti keragaman yang terdapat di antara
wujud bumi dan wujud langit itu sendiri. Keragaman yang lain dari sisi wujud
itu sendiri adalah yang berpijak pada kesatuan, seperti kesatuan yang  terdapat dalam rangkaian kausalitas wujud
antara sebab-sebab dan akibat-akibatnya, dalam wujud yang tercipta (huduts,
creation)
, wujud yang abadi (qidâm, eternity), wujud non materi (tajarrud,
immateriality)
, dan dalam wujud materi (madiyyat, materiality).


Dari perspektif
Hikmah Muta’aliyah, angka dari sisi ke-angka-annya adalah suatu kuantitas yang
terpisah (discontinuous quantity) dan bisa dibagi, dan dari sisi
keberadaannya dalam tingkatan tertentu terbagi menjadi angka-angka yang
terbatas dan tak terbatas, atau genap dan ganjil.


Demikian pula
halnya dengan wujud, dari sisi ke-wujud-annya pun wujud memiliki hukum-hukum
tertentu, seperti ketakberangkapan (bisâthat, simplicity), prinsipalitas
(ashâslat, principality), dan kesetaraan dengan sesuatu. Akan tetapi,
dari sisi kejamakan, wujud pun memiliki hukum-hukum lain yang di
antaranya adalah wujud sebab (illiyyat), wujud akibat (ma’luliyyat),
wujud tercipta (huduts), dan wujud abadi (qidâm).[1]


Sekarang dalam
rangkaian vertikal wujud yang digambarkan dalam Hikmah Muta’aliyyah, selain
seluruh hakikat wujud adalah eksis dan berada, akan tetapi dalam kewujudan dan
keeksistensiannya ini terdapat derajat dan tingkatan yang berbeda-beda. Mereka
sama dari aspek wujud dan eksistensi, namun berbeda dari dimensi intensitas
wujud, mulai dari wujud yang sangat kuat hingga yang sangat lemah, sebagaimana
dalam intensitas suatu cahaya.

Dengan demikian
dalam rangkaian wujud ini, tahapan paling tinggi dari wujud  adalah Yang Haq yang merupakan wujud yang
sangat murni. Dan wujud murni yang karena tidak memiliki keterbatasan, maka
tidak memiliki kuiditas (mahiyyat) dan batasan wujud. Melainkan,
wujud-wujud dan eksistensi-eksistensi lainnya hanyalah merupakan  akibat 
(ma’lul) dari Yang Haq, yang bergantung dan berhubungan secara
mutlak dengan Rububiyyah-Nya, sebagaimana kebergantungan bayangan terhadap
bendanya, dan sebagaimana sinar matahari memiliki hubungan eksistensial terhadap
matahari.


Atau sebagaimana
ilustrasi dan gambaran yang terdapat dalam benak manusia terhadap jiwanya
sendiri dimana keseluruhannya bergantung mutlak pada hakikat jiwa manusia,
sementara jika jiwa dalam sesaat saja meniadakan perhatiannya, maka tidak akan
ada satupun efek yang tersisa.

Sekarang dapatkah
diasumsikan bahwa gambaran dan ilustrasi pikiran semacam ini sejajar dengan
jiwa dan akan menjadi penghambat bagi penampakannya? Atau bisakah diasumsikan
pancaran matahari -yang identitasnya tidak lain bersumber dari matahari-
sejajar dengan matahari itu sendiri?


Dan karena Tuhan
adalah Wujud murni dan bersifat basith mutlak serta memiliki seluruh
kesempurnaan eksistensial dan pada saat yang bersamaan tidak ada satupun dari
selain-Nya yang dapat disejajarkan dengan-Nya. Segala kesempurnaan yang
dimiliki oleh selain-Nya adalah pancaran dari kesempurnaan-Nya dan bersumber
dari-Nya yang diungkapkan dengan nama ‘Faidh‘ (pancaran kesempurnaan
eksistensial).


Memang, Wâjibul
Wujud
dikarenakan ke-basith-an wujud-Nya yang murni, keberadaan
sekutu baginya merupakan sesuatu yang mustahil, karena apabila terdapat sekutu
bagi Wâjibul Wujud, maka masing-masing akan memiliki kesempurnaan khusus
yang tidak dimiliki oleh sekutunya, dengan demikian masing-masing terkomposisi
dari “memiliki” dan “tidak memiliki” dimana
keterkomposisian semacam ini yang dalam istilah lain dikatakan terkomposisi
dari “wujud” dan “tiada”, merupakan bagian dari
keterkomposisian yang paling rendah.[2]


Kesimpulannya
adalah bahwa mumkinul wujud dikarenakan keterbatasan wujudnya tidak akan
setara dengan Wâjibul Wujud yaitu Allah Yang Maha Tinggi, karena ke-bashit-an
dan ketiadaan keterbatasan wujud Tuhan lah yang telah mensucikan-Nya dari
adanya sekutu bagi-Nya, melainkan mumkinul wujud berada dalam posisi
vertikal dan termasuk salah satu dari akibat-akibat-Nya, dan dengan ungkapan
yang lebih jelas, mumkinul wujud merupakan manifestasi dan
tanda-tanda-Nya, dan jelaslah bahwa karena mumkinul wujud merupakan
wujud yang terbatas, seluruh kelemahan dan keterbatasan yang dimilikinya
sebagaimana keterkomposisian, memiliki kuiditas (mahiyah), perubahan dan
semacamnya.


Dan keseluruhan
hal itu muncul dari dimensi-dimensi kekosongan, kelemahan, dan ketiadaan yang
merupakan karakter-karakter hakiki yang dimiliki oleh suatu akibat atau ma’lul,
dimana selain wujudnya bergantung secara mutlak kepada sebab atau ‘illat,
dia juga tidak memiliki seluruh kesempurnaan yang dimiliki oleh ‘illat-nya,
dan ‘illat-nya memiliki kesempurnaan lain selain yang dimiliki oleh ma’lul-nya.
Dari sinilah sehingga Wâjibul Wujud merupakan basith murni,
sedangkan mumkinul wujud merupakan wujud yang terkomposisi dan terbatas.


Dalam ungkapan
Imam Khomeini Rah dikatakan bahwa “wujud” adalah kebaikan, kemuliaan
dan cahaya, sedangkan “tiada” (lawan dari wujud) adalah kegelapan,
kerendahan, dan ketercelaan. Dan dengan semakin sempurnanya wujud maka kebaikan
dan kemuliaannya pun akan semakin sempurna sedemikian sehingga menjadi sebuah
wujud tak terbatas yang tidak terdapat sedikitpun “ketiadaan” di dalamnya
dan menjadi sebuah kesempurnaan yang tidak memiliki sedikitpun kekurangan.


Dan seluruh
kebaikan, kemuliaan, ketinggian, keindahan, kesucian yang ada pada selain
wujud-nya merupakan manifestasi dari-Nya,  
dan tidak ada sebuah kebaikan dan kesempurnaan yang hakiki kecuali hanya
pada-Nya, dengan perantaraan-Nya, dari pancaran-Nya, dan kebaikan seluruh
tingkatan eksistensi disandarkan kepada-Nya.[3][iQuest]


 

Sumber: Islam Quest



[1] . Jawadi Amuli, Abdullah, Tahrir Tamhid Al-Qawâid, hal.
319.

[2] . Jawadi Amuli, Abdullah, Syarh Hikmah Mutâ’aliyah (Asfar
Arba’ah)
, jil. 6, hal. 433-434, Intisyarat Az-Zahra.

[3] . Imam Khomeini, Ruhullah, Syarh Doa-ye Sahar, hal. 143.

Punya Pertanyaan atau Komentar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *