Bagaimana hubungan Iman dan ketenangan hati dalam pandangan Al-Quran?

Dengan Nama-Nya Yang Mahatinggi


Pengguna Site Tanya Islam Yang Budiman, 

    Iman secara leksikal adalah kepercayaan lawan dari
pendustaan (pengingkaran)[1].
Secara teknikal,
iman berarti pengakuan dengan lisan, ketetapan dan kepercayaan dalam hati, dan
beramal dengan tindakan anggota badan.[2]
Adapun “ketenangan hati” secara bahasa bermakna ketenangan di
dalam hati setelah kebimbangan dan kekhawatiran.[3]

 

Perbedaan Iman dan Ketenangan Hati

     Terkadang manusia mungkin saja dengan
perantara argumen dan demonstrasi (burhan) menyakini sesuatu, dan dengan
argumen ini dapat diterima secara rasional, namun tidak memberikan ketenangan
di dalam hati kita. Tetapi jika hal itu memberikan keyakinan di dalam hati maka
keyakinan ini akan menyebabkan ketenangan di dalam hati dan akan menetap di
hatinya.

      Dalam
kondisi seperti ini
tidak
akan terdapat segala bentuk waswas dan keraguan yang muncul dalam benak, misalnya: kita semua yakin bahwa
orang mati tidak dapat melakukan apa-apa dan hal ini dapat kita percayai dengan
argumen dan dalil, namun hal itu tidak
sampai ke dalam hati kita, oleh karena itu mungkin saja seseorang takut terhadap
orang mati khususnya
di malam hari. Akan tetapi ada orang orang yang pekerjaan mereka berhubungan
dengan orang orang mati, mereka tidak akan memiliki ketakutan seperti ini.[4]

    Oleh karena itu ketika seseorang telah
sampai pada kedudukan (maqam) syuhud (penyaksian hakikat) maka hatinya
akan tenang. Nabi Ibrahim As
juga memiliki kesempurnaan dan kemurnian iman terkait dengan menghidupkan kembali orang orang yang
sudah mati, dan tidak terdapat secercah keraguan di dalam hati, akan tetapi ia
berharap sampai kepada ketenangan hati.

     Berkenaan dengan ini terdapat sebuah
riwayat seseorang bertanya kepada Imam Ridha As, “Apakah dahulu dalam hati Ibrahim As terdapat keraguan dan kebimbangan? Imam Ridha As menjawab, “Tidak, melainkan Ibrahim As (dalam keadaan) yakin dan meminta
kepada Allah Swt
agar ditambah keyakinannya.”[5]

Sebagian
riwayat menyebutkan bahwa Ibrahim As memiliki keraguan kalau demikian adanya
kita juga boleh memiliki keraguan dan apabila kita tidak memiliki iman dan
keyakinan maka tidak akan ada cela dan aib yang dapat ditujukan kepada kita.

     Disebutkan dalam sebuah riwayat:  “Seseorang
mengirim surat ke Imam Musa AlKazim
As dan mengatakan, saya dalam keadaan keraguan, sebagaimana
Ibrahim As juga berkata kepada
Allah Swt, Perlihatkanlah padaku bagaimana
Engkau menghidupkan orang mati
”. Saya juga menginginkan engkau
memperlihatkan sesuatu kepadaku.
Imam As menjawab dengan
menulis, “Sesungguhnya Ibrahim As adalah seorang beriman dan menginginkan kadar imannya bertambah, akan tetapi engkau
dalam keadaan ragu dan tidak terdapat kebaikan keraguan pada manusia.”[6]

     Oleh karena
itu, manusia haruslah memiliki keimanan dan keyakinan dalam permasalahan prinsip-prinsip
agama (ushuluddin), dan untuk mendapatkan keimanan dan keyakinan terdapat
jalan-jalan argumentasi dan demonstrasi (burhan) yang tidak lagi menyisakan keraguan
bagi manusia. Dan untuk menjawab pelbagai syubhat (kesamaran) yang dijumpainya
ia dapat merujuk kepada ulama agama.

      Allakulihal, dengan
sedikit cermat dan pendalaman terhadap ayat Al-Quran maka hal itu akan
menghantarkan kita sampai kepada hakikat ini bahwa yang dapat menghilangkan
kecemasan-kecemasan ruh dan jiwa adalah penguatan keimanan kepada Tuhan Yang
Maha Bijaksana lagi Maha Adil, dan juga keimanan terhadap hari kiamat, surga
dan neraka, amal-amal ibadah seperti shalat sehingga manusia dapat sampai
kepada kedudukan ini.

     Ketika
seorang Mukmin telah merasakan bahwa Allah Swt telah memberikan rahmat-rahim
dan melindunginya, maka tidak akan ada lagi ketakutan, kecemasan, kegelisahan
di dalam hatinya, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu
bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya),
jika kamu orang-orang yang beriman
”.
[7]  Allah Swt pada ayat ini mengatakan: Jika
kalian bersama Allah, semua kekuasaan bumi dan langit berada dalam kekuasaan ikhtiar
kalian, dan Allah Swt mengetahui kebutuhan-kebutuhan dan kesusahan-kesusahanmu,
dan mengetahui kegigihan, ketaatan, dan penghambaanmu.

    Dengan bibit-bibit keimanan kepada Ilahi
seperti ini bagaimana mungkin tidak muncul ketenangan hati dalam diri manusia? Tentu saja watak dan
makrifat ini
akan menutup
perkara-perkara yang menimbulkan kecemasan dan kebimbangan ruh pada  jiwa dan hati manusia.[iQuest]

 

Sumber: Islam Quest

 



[1]. Muhammad
bin Mukaram Ibnu Manzhur,
Lisân
al-‘Arab, jil. 13, hal. 21, Dar Shadra, Beirut, Cetakan Ketiga, 1414 H.

[2]. Kulaini, Al-Kâfi, jil. 2, hal. 27, Hadis 1, Dar al-Kitab
al-Islamiyah, Teheran, 1365 S, Imam Shadiq As bersabda, “Iman adalah pengakuan
dengan lisan, di ikat di dalam hati, dan beramal dengan keyakinan.” Untuk  telaah lebih jauh ihwal makna iman dan
perbedaannya dengan Islam dan ilmu silahkan lihat indeks “ Syarat-syarat Islam
dan Iman,” Pertanyaan No. 1311 (Site: 1343) dan 
“Perbedaan Iman dan Ilmu, Pertanyaan No. 5382 (Site: 5651)

[3]. Husain bin Muhammad, Raghib Isfahani, Tarjamah wa Tahqiq
Mufrad
ât
Alf
az
Qur
ân, Khusrawi, Gulam Reza, Intisyarat Murtadhawi, Teheran, Cetakan Kedua, 1375 S.

.[4] Nasir
Makarim Shirazi, Tafsir
Nemune
, jilid 2, hlm 304, terbitan Darul kitab Al Islamiyah, Tehran,
cetakan pertama, 1374 HS.

[5]. Abd
Ali bin Jumah
Arusi Huwaizi, Nur alTsaqalain, jil. 1, hal 330, terbitan Muasasah Al
Tarikh Al Arabi, Bairut, cetakan pertama, 1412 H.

[6]. Ibid, jil.1, hal.
336.

[7]. (Qs.
Ali Imran [3]: 139
)

© 2022 Tanya Islam. All Rights Reserved.