Selamat Datang di situs TanyaIslam.Net. Web ini berisi kumpulan tanya jawab seputar masalah dalam keislaman dan Anda pun bisa ikut mengirimkan pertanyaan kepada kami..

banner2
banner3
banner1


PERTANYAAN

Mengapa kecenderungan kepada aspek-aspek material dan duniawi sangatlah besar dan mudah daripada kecenderungan kepada alam akhirat dan nilai-nilai maknawi?


JAWABAN

Dengan
Nama-Nya Yang Mahatinggi


Pengguna Site Tanya Islam Yang Budiman, 

Sebagaimana di
alam natural, gerak dan proses menurun lebih mudah daripada gerak menaik. Hal
ini juga berlaku pada gerak dan suluk dalam perkara-perkara maknawi dan akhlak.
Sebagaimana pernyataan al-Quran, gerak menaik atau proses menyempurna adalah
senantiasa beriringan dengan usaha yang sungguh-sungguh dan penderitaan. Kata
Kâdihun” atau “kadhan” yang ada dalam ayat
tersebut di atas yang dalam bahasa Arab adalah bermakna “upaya yang
sungguh-sungguh”.[1]


Untuk kejatuhan
manusia di lembah dunia ini, maka cukuplah dia mengikuti hawa nafsu dan
keinginginan syahwatnya. Karena bergerak di atas jalan keinginan-keinginan
rendah hawa nafsu seperti berjalan ke arah menurun yang penuh dengan kemudahan
dan keringanan.


Sementara
bergerak dan berjalan sesuai dengan perintah akal dan agama serta berlawanan
dengan kecenderungan duniawi, waswas setan, dan kehendak hawa hafsu adalah
suatu proses menyempurna dan menaik. Sebagaimana mendaki suatu puncak yang
tinggi adalah sangat sukar dan penuh kesulitan, namun senantiasa diiringi
dengan perasaan bahagia dan keyakinan.


Dalam perspektif
al-Quran, manusia adalah suatu makhluk yang memiliki dua dimensi, dimensi
fitrah Ilahi dan aspek natural material. Fitrah manusia senantiasa mengajaknya
kepada makrifat yang tinggi, nilai-nilai spiritual, maknawi, akhlak, dan
kebaikan-kebaikan. Sedangkan dimensi naturalnya selalu menggiringnya kepada
kerendahan material, hawa nafsu, dan keburukan.


Kehidupan manusia
adalah lapangan pertempuran yang terus menerus antara aspek natural dan fitrah
Ilahinya. Apabila dimensi tabiat manusia menang atas fitrah Ilahinya, maka dia
akan menjadi tawanan bagi kecenderungan naturalnya yang rendah itu. Dalam
pandangan al-Quran, manusia seperti ini dikategorikan sesat dan rendah. Namun,
jika fitrah Ilahinya mampu mengalahkan keinginan rendah tabiatnya, maka segala
kecenderungan naturalnya diarahkan sejalan dengan fitrahnya. Dalam keadaan
seperti ini, manusia ini dikatakan berada dalam hidayah Ilahi dan berjalan di
atas jalan yang benar .[2]


Kata “dunya
dalam makna leksikalnya adalah rendah. Dan manusia untuk menggapai keinginan-keinginan
duniawinya maka cukuplah dia menutup matanya dan tidak memandang langit suci
Ilahi. Namun, untuk keluar dari tarikan kecendengan dan penjara duniawi serta
berjalan ke arah alam spiritual dan fitrah Ilahi, maka tidaklah cukup hanya
sekedar berencana, berkata, dan klaim. Melainkan dia harus melawan secara nyata
segala keinginan hawa nafsu, menentang seluruh bisikan dan waswas setan,
meninggalkan segala tingkah laku dan adat yang buruk, dan memotong ribuan akar
yang menjebaknya dalam aktivitas-aktivitas keseharian.


Oleh karena itu,
para guru akhlak dan irfan praktis kadang memaparkan hakikat-hakikat tinggi
spritual dan metode meniti tingkatan-tingkatan kesempurnaan itu dalam bentuk
seratus tahapan, atau seribu tingkatan, atau menghadirkannya dalam bentuk
adab-adab suluk. Supaya manusia pada akhirnya bisa melepaskan dirinya dari
ikatan-ikatan hawa nafsu dan berujung menjadi seorang hamba Tuhan yang sejati.


Perjalanan
maknawi dan suluk spritual seorang hamba kepada Tuhan adalah suatu proses menaik
dan gerak vertikal, bukan gerak horisontal dan mendatar. Dan maksud dari
vertikal dan menaik di sini adalah vertikal dalam “bangunan” dan
“geometris” Ilahi yakni mencapai suatu “derajat yang
tinggi”, bukan dalam dimensi materi yakni pergi ke suatu “tempat yang
tinggi”.


Dari aspek ini
menuntuk adanya suatu metode, cara, dan jalan supaya manusia terbantu untuk
menggapai suatu derajat dan maqâm  yang
tinggi. Tuhan menyebut suluk ruhani dan penapakan spiritual itu dengan
perjalanan menaik dan vertikal, hal ini sebagaimana tertera dalam surah
Mujadalah ayat sebelas yang berbunyi, 
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan di antara kamu beberapa derajat
“.


Seseorang yang
berjalan menaik dan menyempurnakan dirinya maka niscaya akan mencapai derajat
yang tinggi dan Tuhan dalam ayat di atas berkaitan dengan perjalanan maknawi
ini menggunakan kata “yarfa’u” yang berarti meninggikan.
Begitu pula dalam surah Fathir menamakan perjalanan maknawi ini dengan
“menaik”.
Kepada-Nya-lah naik
perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh
akan mengangkatnya.
(Qs. Fathir [35]: 10)


Maka dari itu,
kedua kata “menaik” dan “mengangkat” dalam suluk
tersebut  telah menjadi jelas, yakni
berkonsekuensi pada nilai-nilai vertikal dan penggapaian derajat-derajat, bukan
nilai-nilai horisontal dan pergi pada suatu tempat. Karena perjalanan ke suatu
tempat -walaupun tempat itu tinggi seperti gunung- adalah masih digolongkan
dalam perjalanan horisontal, bukan vertikal. Dan Tuhan mengingatkan berkaitan
dengan pengangkatan Nabi Idris As yang telah menapaki perjalanan vertikal ini
sebagai berikut, “
Dan Kami
telah mengangkatnya ke martabat
dan tempat yang tinggi.”
(Qs. Maryam [19]: 57).


Maksud dari
“tempat yang tinggi” dalam ayat itu bukanlah tempat lahiriah
sebagaimana di dunia ini. Dan Tuhan berhubungan dengan zat suci-Nya sendiri
juga menggunakan istilah sebagai wujud yang memiliki derajat dan
“tempat” yang tinggi. Hal ini sebagaimana dalam surah Ghafir ayat
limabelas,
(Dia-lah)
yang mengangkat derajat (para hamba yang saleh)
.”


Oleh karena itu,
perjalanan menuju Tuhan adalah perjalanan ke arah derajat dan tingkatan yang
tinggi, dan para mukmin akan mencapai derajat yang tinggi serta para alim akan
mendapatkan kesempurnaan yang lebih besar lagi. Begitu pula kalimat-kalimat
yang baik akan mengarah ke derajat yang tinggi itu.[3]


Pernyataan lain
juga memiliki kaitan bahwa kecenderungan kepada Tuhan itu sendiri tidak lain
adalah gerak menaik dan ketinggian derajat, sementara keinginan duniawi adalah gerak
menurun, kehinaan, dan kerendahan martabat itu sendiri. Dunia dikatakan sebagai
dunia karena memiliki derajat yang sangat rendah atau paling rendahnya sesuatu.
[4]Kecenderungan
duniawi menyebabkan manusia menjadi rendah dan hina derajatnya.[5]


Untuk mendekatkan
diri kepada Tuhan dan menggapai nilai-nilai spiritual … apabila dengan
mengorbankan harta benda dan keluarga, maka itu sangatlah layak dan terpuji.[6]
Dan mengakui kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa secara jantan akan menyebabkan
Tuhan pasti mengantarkannya  kepada
derajat dan martabat yang tinggi.[7]


Oleh karena itu,
kecenderungan dan keinginan kepada perkara-perkara maknawi dan spiritual serta
alam akhirat adalah suatu gerak dan proses ke arah fitrah Ilahi. Dan
kecenderungan kepada hal-hal duniawi dan nilai-nilai material adalah suatu
gerak dan proses yang didasarkan pada tabiat alam materi dan aspek natural
manusia serta manusia sangat termotivasi untuk menggapai keindahan-keindahan
lahiriah alam materi ini dan larut dalam menikmatinya,
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan
dunia ini; sedang mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat
.” (Qs. Rum
[3]: 7)


Begitu pula
segala apa yang manfaat-manfaat dan hasil-hasilnya cepat hadir dan berlalu
merupakan sesuatu yang senantiasa diinginkan dan dikehendaki oleh manusia,
seperti dalam ayat berikut ini, “
Sekali-kali
tidak (seperti yang kamu yakini bahwa dalil-dalil tentang hari kiamat itu tidak
cukup). Sebenarnya kamu (hai manusia) hanya mencintai kehidupan dunia
dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.” (Qs. Qiyamat [75]: 20 dan 21).


Dengan berpijak
pada realitas ayat tersebut di atas Imam Ali As bersabda, “Orang-orang
yang sesat itu mendahulukan perkara-perkara duniawi dan manfaat-manfaat yang
cepat berlalu itu serta menunda-nunda perkara-perkara ukhrawi dan nilai-nilai
yang abadi.”[8]
Dan kesimpulannya, kecenderungan dan keinginan manusia kepada perkara-perkara
duniawi dan nilai-nilai material nampaknya sangatlah mudah dan ringan.[Tanya Islam.Net]

 

Diadaptasi dari Site Islam Quest


[1]. Askary, Abu Halal, Al-Furug fil
lughah
, hal. 369, Intesyarat Oston Quds-e Radhawi.

[2]. Hadavi Tehrani, Mahdi, Bowarha wa
Pursesyha
, hal. 84, Muassasah Farhangi Khoney-e Kherad.

[3] . Jawadi Amuli, Abdullah, Tafsir Maudhu’I Quran Karim, Marahile
Akhlaq dar Quran
, Bakhsye Sewwum, hal. 223, Markaz-e Nasyr-e Isra’.

[4] . Rey Syahri, Muhammad, Muntakhab Mizanul Hikmah, hadis
nomor 2171, Imam As.

[5] . Ibid, hadis nomor2192.

[6] . Nahjul Balaghah, khotbah 52.

[7] . Ibid, hikmah 20.

[8] . Nahjul Balaghah, khotbah 144.

Punya Pertanyaan atau Komentar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *