Selamat Datang di situs TanyaIslam.Net. Web ini berisi kumpulan tanya jawab seputar masalah dalam keislaman dan Anda pun bisa ikut mengirimkan pertanyaan kepada kami..

banner2
banner3
banner1


PERTANYAAN

Apakah manusia memiliki kapasitas untuk dapat mencintai Tuhan? Apakah kecintaan itu bersifat hakiki atau majasi?


JAWABAN


Dengan Nama-Nya  Yang Mahatinggi,

Pengguna situs Tanya Islam yang budiman:

Tujuan cinta majasi adalah berfungsi sebagai jembatan untuk sampai pada cinta hakiki (isyq haqiqi). Apabila disertai dengan kesucian maka cinta majasi tersebut akan mengantarkan manusia menjadi pecinta hakiki Tuhan setelah perubahan dan gejolak asasi dalam diri manusia.[1]

Menjadi pecinta hakiki merupakan tujuan utama agama dan batin hakikat agama; lantaran pada hakikatnya natijah seluruh amalan, ibadah, dan tingkatan-tingkatan sair-suluk adalah untuk sampai pada makam kecintaan (mahabbah) Ilahi. Terkhusus dalam Islam perhatian penting diarahkan pada masalah ini dan para imam serta para arif besar kita adalah para teladan cinta kepada Allah Swt dan orang-orang yang sampai pada kediaman kudus Ilahi di muka bumi.

Seseorang yang telah mencerabut kecintaan selain Tuhan dan memenuhi jiwanya dengan kecintaan kepada Tuhan, sejatinya ia telah mencapai makam khusus dalam suluk batin yang harus dihargai dan bertahan pada makam ini. Hati orang seperti ini dipenuhi dengan cinta dan kasih dan bersiap untuk menyerahkannya kepada pemilik aslinya; sejatinya orang seperti ini substansi wujudnya yaitu hatinya, telah digadai pada pasar non-makrifat cinta-cinta duniawi dan telah terbebas dari azab dan penjara duniawi.

Tatkala Imam Shadiq As ditanya tentang esensi cinta (cinta majasi), beliau bersabda, “Hati-hati penuh dengan mengingat Allah dan mengosongkan kecintaan kepada selain-Nya dikosongkan.”[2] Boleh jadi tuturan Imam Shadiq As ini tengah menengarai ayat al-Qur’an yang menyatakan, “Barang siapa yang buta dari peringatanku sesungguhnya kehidupan akan menjadi sempit baginya dan akan dibangkitkan kelak dalam keadaan buta.”

Dalam tinjauan  ini, cinta majasi tidak lain kecuali mengingat Sang Kekasih hakiki dan seseorang yang terjangkiti kecintaan seperti ini akan kembali kepada fitrah tauhid dan cinta azali.

Berbeda dengan cinta majasi, cinta hakiki dan cinta sejati kepada Tuhan dan mengingat Tuhan dengan penuh cinta akan mendekatkan manusia kepada fitrah Ilahinya dan membebaskannya dari azab dan mendatangkan ketenangan dan kedamaian dalam hati.

Apa yang kita perhatikan pada kehidupan yang penuh dengan ketenangan dan kedamaian para arif menunjukkan bahwa sebiji atom dari kelezatan dan ketenangan yang mereka rasakan buah cintah Ilahi sehingga membuat mereka enggan mencicipi kelezatan duniawi dan menjauh darinya; kelezatan dan ketenangan serta perasaan keberadaan yang mereka rasakan dalam cinta Ilahi, yang tentu tidak akan pernah dicicipi oleh para pecinta dunia. Hingga kini tiada seorang pun dari pecinta Tuhan yang menyesali akan kecintaannya. Dalam sebuah ungkapan, hidup mereka tiada lain kecuali telah lebur dan hanyut dalam samudera kecintaan-Nya.

Hanya saja cinta Ilahi meniscayakan manusia harus melepaskan dunia dan segala ketergantungan terhadapnya namun hal ini tidak bermakna bahwa mereka tidak boleh menikmati segala karunia dunia dan segala jelmaan-jelmaan majasinya; perbedaan asasi dalam masalah ini adalah bahwa tiada lagi azab dan ketergantungan dalam hal ini dan pelbagai konfrontasi alam dunia, hal ini berbeda dengan anggapan, tidak bermkana ketiadaan dan kehancuran melainkan sebalinya, keberadaan arif setelah fana ia akan mencapai makam baqa Ilahi dan alam majas dengan pandangan Ilahi seorang arif akan menjadi kehidupan Ilahi dan menjadi citra Tuhan karena tiada lagi ketergantungan dan kesyirikan dalam pandangannya:

Aku gembira memandang semesta lantaran semesta berasal darinya

Aku mencinta semesta karena semesta berasal darinya

Boleh jadi dunia berpaling dari orang yang mencarinya dan menginginkan pecinta Tuhan dan kecintaan arif terhadap hal-hal majasi dan duniawi juga merupakan kecintaan yang terlepas dari ketergantungan dan bersumber dari kecintaan terhadap Sang Kekasih sejati dan terlepas dari azab yang lahir dari ketergantungan dan kebutuhan ini dan sekali-kali lautan kecintaan Ilahi-nya tidak akan menjadi gelombang tawanan alam majas dan tidak akan tergelincir oleh cobaan-cobaan alam majas karena seluruhnya ia pandang sebagai pancaran hakikat tunggal Ilahi dan sejatinya kecintaannya terhadap dunia adalah laksana kecintaan universal terhadap partikular bukan karena penghambaan terhadap dunia.

(Meski) Mutiara lahir dari adanya gelombang laut

Dan laut hanya menerima kebebasan

(Namun) Seorang arif tidak akan tertawan alam warna-warni

Hatinya tidak tertawan dengan adanya gemuruh gelombang[3]

Karena itu, seluruh dunia beserta segala isinya dibandingkan dengan pandangan wajhuLlah, dalam pandangan seorang arif tidak lain kecuali tempat bermain. Karena itu, meski Allah Swt menganugerahan dua alam kepada seorang pecinta sejati-Nya namun ia tidak menghendaki sesuatu dari Tuhan selain Tuhan dan untuk sampai pada Kinasih azalinya menuntut supaya dirinya fana sehingga Tuhan mengejewantah pada dirinya. Karena itu, ia tidak akan pernah takut matu juga tidak lari darinya. Urusan-urusan dunia tidak membuatnya was-was karena ia menemukan kematian sebagai jiwa yang lain dan ketiadaannya menemukan keberadaan yang lebih unggul.

Kondisi-kondisi para arif dan pecinta Tuhan ini, dalam kemaniakan dan ketidaksadaran terhadap dunia dan segala isinya, senantiasa menimbulkan ketakutan orang-orang yang bergantung pada alam majaz dan orang-orang pinggiran cinta Ilahi; karena mereka sama sekali tidak memiliki gambaran tentang kondisi mereka dan lalai bahwa mereka telah karam dalam samudera cinta Ilahi di dunia ini; karena itu karena mereka tidak memiliki gambaran terhadap makam-makam ini maka mereka merasa takut dan lari darinya; takut jangan-jangan segala kepunyaan orang yang dicintainya hilang dan merasakan penderitaan, ketiadaan dan kesengsaraan.

Perumpamaan orang-orang dunia dalam kaitannya dengan seorang arif adalah laksana anak kecil yang sama sekali tidak mau melepaskan mainan kesukaannya dan meski ditawarkan kepadanya istana-istana megah dunia namun ia masih beranggapan bahwa ia ingin dipisahkan dari mainan kesukaannya.

Karena itu, orang-orang yang tergantung pada alam majas (dunia) sekali-kali tidak ingin berhadapan dengan ketiadaannya dan keberadaan Tuhan, meski pada akhirnya – setelah kematian dan hari kiamat – mereka tidak memiliki pilihan lain. Meski mereka lari dari cinta kepada Zat Ilahi namun berkat dorongan cinta di haribaan Tuhan, ia memiliki hati yang tenang dan meski ia sendiri tersiksa dengan “azab” (mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram) namun kebebasannya (meninggalkan yang wajib dan mengerjakan yang haram) bukan sesuatu yang menggembirakan baginya.

Dengan demikian, hubungan cinta dengan Tuhan adalah maksud hakiki manusia dan termasuk salah satu keniscayaan eksistensial khususnya pada masa kita sekarang ini, kebuntuan-kebuntuan tanpa batas pada dimensi afeksi, ideologi, moral dan sebagainya, mau-tak-mau, akan menggiring manusia kembali kepada cinta hakiki ini dan hakikat ini tidak boleh dihindari. [Tanya Islam.Net]

Diadaptasi dari Islam Quest


[1]. Hadis masyhur “Barang siapa yang menjadi pecinta kemudian menyembunyikannya dan menjaga martabatnya serta bersabar kemudian mati maka ia mati dalam keadaan syahid dan akan memasuki surga.” dalam pandangan arif tengah menengarai hakikat ini.  

“مَن عَشَقَ فَكَتَمَ وَ عَفَّ و صَبَرَ فمَاتَ مَاتَ شَهيداً وَ دَخَلَ الجنة.”

[2]. Syaih Shaduq, al-Amâli, hal. 669, Kitabkhane Islamiyah, 1363 S.

سألت أبا عبد الله عن العشق قال: “قلوب خلت من ذكر الله فأذاقها الله حب غيره.”

[3]. Bidel Dehlawi

Punya Pertanyaan atau Komentar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *