Selamat Datang di situs TanyaIslam.Net. Web ini berisi kumpulan tanya jawab seputar masalah dalam keislaman dan Anda pun bisa ikut mengirimkan pertanyaan kepada kami..

banner2
banner3
banner1


PERTANYAAN

Apakah peran Islam dalam kemajuan peradaban manusia?


JAWABAN


Dengan Nama-Nya Yang Mahatinggi

Pengguna SItus Tanya Islam yang budiman

Pembentukan peradaban setiap bangsa menunjukkan tingginya tingkat perekonomian, sosial dan budaya bangsa tersebut dan merupakan penjelas dari pertumbuhan, perluasan dan kemajuan di berbagai bidang masyarakat. Kebanggaan setiap bangsa terletak pada keberadaan berbagai peradaban dalam arus putaran sejarahnya.

Urgensi ini dikarenakan pembentukan peradaban dengan bentuk yang kokoh dan terarah berkaitan erat dengan produksi pada tiga bidang berikut:

Poin yang menjadi perhatian di sini adalah tanpa adanya keamanan, masing-masing produksi di bidang ekonomi, politik dan budaya ini tidak mungkin akan terwujud, dengan demikian keberadaan keamanan merupakan persoalan yang sangat signifikan.

Histori pembentukan peradaban di negara-negara Islam adalah dengan makna bahwa mereka memiliki produksi pemikiran dan pengetahuan, kekayaan, investasi dan juga kodrat dan kekuataan, dalam keadaan selain ini maka tidak akan terbentuk sebuah peradaban. Pembentukan peradaban pun sangat bergantung pada adanya keamanan; sebuah keamanan yang berdasar pada sebuah pengetahuan yang terbentuk dari proposisi-proposisi dan pengawasan-pengawasan keamanan. Dan selama tidak ada berbagai pengetahuan agama, filsafat, irfan dan lain sebagainya maka sangat wajar jika  tidak muncul pendapat-pendapat tentang keamanan dan akibatnya organisasi-organisasi dan institusi-institusi pelaksana pembentukan peradaban pun tidak akan tercipta.

Dengan penjelasan ini kita akan membahas tentang definisi peradaban yaitu pada dasarnya, apakah peradaban itu dan apa definisinya?

Peradaban berasal dari sebuah kosa kata Arab “tamaddun.” Akar kata tamaddun adalah mu-du-n, dan maknanya adalah penerimaan untuk menempati kota, berbaur dengan adab-adab dan akhlak warga, penerimaan sistem, hukum dan seluruh tingatan masyarakat, serta kerjasama individu-individu masyarakat antara satu dengan yang lainnya dalam berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain sebagainya.[1] Dalam kitab lainnya, peradaban didefinisikan demikian, berbaur dengan akhlak masyarakat yang menempati kota, mengalami perubahan dari kejahilan dan ketidak tahuan menuju keinsanan.[2]

Will Durant, salah satu dari ilmuwan besar Perancis, dalam mendefinisikan peradaban berkata, “Peradaban secara global berarti keteraturan sosial dimana hasil dari keberadaannya adalah terdapatnya penerimaan kreatifitas budaya dan ditemukannya arus. Dalam peradaban, terdapat tiga rukun dan unsur asasi, yaitu: prediksi dan kehati-hatian dalam persoalan ekonomi, organisasi politik dan tradisi akhlak serta upaya dalam mengenal seni. Kelahiran peradaban akan diterima saat terdapat kemungkinan berakhirnya segala kekacauan dan keputusasaan, yaitu saat hilangnya ketakutan sehingga rasa penasaran dan kebutuhan terhadap peletakan dan penemuan akan berfungsi dan manusia akan pasrah terhadap instinknya yang akan mendorongnya secara alami dalam perjalanan mencari ilmu, makrifat dan dalam mempersiapkan sarana-sarana untuk memperbaiki kehidupan.[3]

Unsur-unsur pembentuk Peradaban

Untuk membentuk sebuah peradaban terdapat berbagai unsur yang akan memberikan pengaruh.

Ilmu: Ilmu merupakan salah satu dari rukun yang terpenting dalam pembentukan peradaban. Ilmu dalam Islam memiliki urgensitas yang teramat tinggi. Dalam al-Quran banyak ditekankan tentang ilmu, “Apakah mereka yang mengetahui dengan mereka yang tidak mengetahui adalah sama dan sejajar?”[4]

Dalam riwayat-riwayat terdapat banyak penegasan terhadap masalah ini. Imam Ali As bersabda, “Wahai menusia! Ketahuilah bahwa agama akan dikatakan sempurna dan benar ketika engkau mempelajari ilmu dan ilmu itu sendiri yang akan bekerja. Ketahuilah bahwa mencari ilmu itu lebih wajib daripada mencari kekayaan.”[5]

Sistem dan Keteraturan: Yang dimaksud dengan keteraturan adalah menempatkan segala sesuatu di tempatnya yang sesuai sedemikian hingga tercipta keharmonisan dan keterikatan, mendorong sebuah rangkaian ke arah tujuan yang sama. Seluruh nabi dari awal hingga Nabi Pamungkas Saw telah banyak menjelaskan tentang aturan-aturan individu dan sosial untuk menciptakan keteraturan sosial. Mereka banyak menjelaskan tentang aturan-aturan individu dan sosial, sebuah aturan yang menjelaskan kewajiban manusia terhadap diri, keluarga, masyarakat, sesama, lingkungan hidup dan para penguasa. Masalah-masalah  ini mempunyai urgensi yang sangat penting dalam membentuk peradaban.

Keamanan (sekuritas): Dengan makna damai dan perasaan tenang yang dihasilkan di bawah naungan pemerintah, penguasa, konstitusi dan keteraturan, dan selama unsur ini tidak dihasilkan maka tidak akan mungkin tercipta peradaban. Ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan keamanan ekonomi, moneter dan jiwa, seperti yang terlihat pada ayat-ayat qishash, pencurian, dan ayat-ayat yang berkaitan dengan penjagaan harga diri para mukmin, merupakan aturan-aturan kuat yang menjadi penjamin keamanan masyarakat.

Kesatuan (unitas) dan Kerjasama (korporasi): Unsur ini mempunyai peran yang sangat besar dalam kemajuan peradaban,  sedemikian sehingga jika kita menafikan kerjasama manusia, maka masyarakat akan menjadi lemah dan akan berakhir pada primitivisme. Madani dan peradaban di bawah naungan sosial dan masyarakat akan terwujud dengan adanya keterikatan hukum. Al-Quran secara tegas mengajak manusia kepada kesatuan, solidaritas, ketaatan pada para penguasa Ilahi, dan melarang masyarakat dari perpecahan supaya bisa sampai pada kemajuan dan perkembangan, “Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai …” [6] dan seluruhnya harus memegang tali-tali Allah (al-Quran dan Islam dan segala bentuk sarana kebersatuan) dan janganlah kalian bercerai berai![7]

Selain faktor-faktor di atas, juga terdapat faktor-faktor lain yang bisa disebutkan di antaranya, kesejahteraan nisbi dan pandangan supra etnik, etika, kesabaran dan lain sebagainya yang memberikan pengaruh dalam pembentukan peradaban.

Dengan memperhatikan faktor-faktor di atas dapat dikatakan bahwa tanpa unsur-unsur ini tidak akan ada harapan untuk sebuah peradaban dan siapapun yang memiliki kajian sedikit dalam Islam, akan mengetahui bahwa agama Islam, baik dalam al-Quran maupun dalam riwayat serta sirah para Imam Maksum banyak menegasakan unsur-unsur pembentuk peradaban, sedemikian hingga tidak bisa ditemukan sebuah agama pun yang memberikan penegasan seperti ini atas anasir di atas sebagaimana Islam.

Dengan mengkaji secara ringkas mengenai literatur pemikiran Islam, yaitu al-Quran, Rasulullah Saw dan para Imam Maksum Aimmah As, dapat disimpulkan bahwa Allah dan para wali-Nya, senantiasa mengajak, bukan hanya kepada orang-orang beriman, melainkan juga mengajak para kafir, musyrik dan bahkan pengikut agama-agama lainnya untuk memanfaatkan kecerdasan dan akal, sedemikian sehingga Allah Swt tidak meminta para orang beriman untuk memiliki keimanan yang mengekor, melainkan harus menganggap tauhid sebagai dasar iman yang merupakan hasil kontemplasi dan ilmu.”[8]

Peradaban dunia kontemporer muncul dari upaya dan usaha berbagai bangsa di dunia dalam sepanjang sejarah dimana di tengah-tengah ini peran Islam dalam mewujudkan peradaban baru ini sangat menonjol, karena Islam selain agama yang membidangi lahirnya ilmu dan teknologi, bahkan juga mentransferkannya ke Barat. Secara global perpindahan ilmu dan peradaban dari Islam ke Barat berlangsung melalui tiga cara:

Muslim dengan inspirasi dari anasir utama Islam dan dengan memanfaatkan peninggalan peradaban-peradaban sebelumnya, Yunani, Mesir, Roma, Iran, India, Bahrain, China dan lain sebagainya telah merancang dasar-dasar pertama peradaban Islam dan dalam perputaran selanjutnya akan sedemikian serius untuk mengembangkan dan menyempurnakannya hingga hampir delapan kurun memegang tanggung jawab kepemimpinan pemikiran bangsa-bangsa.

Sepanjang masa panjang ini para Muslim telah meraih peran dwiguna. Dari satu sisi, dengan mentransferkan karya-karya berharga peradaban lalu ke dunia Islam, tidak saja telah menyelamatkannya dari kepunahan, melainkan dengan penterjemahan, pembaruan, koreksi dan penyempurnaan pemikiran-pemikiran mereka, begitu banyak dari ilmu-ilmu terdahulu yang mencapai kesempurnaan. Dari sisi lain juga telah memperoleh keberhasilan dalam meletakkan dasar pada sebagian ilmu-ilmu baru seperti kimia observasi, fisika bru, al-jabar, geologi, biologi, ilmu-ilmu sosial dan filsafah sejarah.

Misalnya Jabir ibnu Hayyan dan Zakariya Razi, telah mengeluarkan ilmu kimia dari pemahaman makna dan keantikannya dan membawanya ke dunia percobaan. Ibnu Haitsam yang melandasi pembentukan ilmu fisika pembentuk cahaya. Kharazmi dengan meletakkan ilmu al-jabar bukan saja telah membuat namanya menjadi abadi, bahkan tlah memberikan pelayanan besar terhadap dunia kemanusiaan. Ibnu Khaldun menemukan metode baru dalam analisa tema-tema sejarah dan pada dasarnya telah menciptakan sejarah dan ilmu-ilmu sosial, dan sebelum budaya dan peradaban Islam menyebabkan Eropa dan seluruh kawasan menjadi terpengaruh dan bangkit karenanya.”[10]

Selain hal-hal di atas, banyak berbagai ilmu lain yang telah dikembangkan oleh para Muslim atau sebagian ditemukan oleh mereka dimana hal ini memberikan pengaruh yang signifikan pada peradaban Barat. Terutama ilmu pengobatan yang merupakan bagian dari ilmu-ilmu dimana para Muslim memiliki peran yang sangat penting dalam penemuannya. Kedokteran Mata, bedah dan psikolog pun termasuk bagian-bagian dari kedokteran dimana para Muslim sekali lagi memberikan perannya yang luar biasa dalam mengembangkan dan memajukannya, dan karya para ilmuwan medis Muslim diajarkan selama ratusan tahun di fakultas-fakultas kedokteran Eropa. Mereka memanfaatkan karya-karya ilmuwan seperti Ibnu Sina untuk mendidik para medisnya, kemudian bangga dengan medis dan dokter Muslim.

Dalam ilmu-ilmu seperti ilmu kimia, fisika, demikian juga peradaban Barat  berhutang pada peradaban Islam dan masih tetap menjadi bintang-bintang penuh cahaya di langit alam ini, seperti Jabir ibnu Hayyan, Ibnu Haitsam dan Zakaria Razi dan selainnya.

Dikatakan bahwa mayoritas dari apa yang hari ini disebut sebagai peradaban Islam, pada hakikatnya adalah peradaban para Muslim yang diambil dari ajaran-ajaran umum Islam. Oleh karena itu, pada seluruh hal ini tidak bisa secara umum memberikan aspek kesucian sebagai peradaban Islam. [Situs Tanya Islam.Net]

Diadaptasi dari Islam Quest


[1]. Lughat Nameh Dekhôda, Farhangge Mu’in wa Farhangg-e ‘Amid, klausul “mu-du-n”.

[2]. Farhangge Abjadi ‘Arabi-Farsi, hal. 258, sehubungan dengan klausul mu-du-n.

[3]. Will Durant, Tarikh-e Tamaddun, Penerjemah, Ahmad Aram, jil. 1, hal. 3.

[4]. (Qs. Al-Zumar [35]: 9)

[5]. Kulaini, Ushûl al-Kâfi, jil. 1, Bab Pertama, Hadis 4.

[6]. (Qs. Ali Imran [3]: 103)

[7]. Ghulamuhsin Muharrami, Naqsye Anbiyâ dar Pisyrafte Tamaddun-e Basyari, www.Tebyan-zn.ir.

[8]. Ali Akbar Wilayati,: Puyoi-ye Farhanggi wa Tamaddune Islam wa Iran, jil. 1, Markaz Capb wa Intisyarat-e Wizarat Umur-e Khoriji, Teheran 1382 S.

[9]. Ibid., hal. 231.

[10]. Muhammad Dzikrullah: Naqsye Farhang wa Tamaddun –e Islami dar Bidoriye Gharb, Intisyarat-e Donesygoh Bainl Melali Imam Khomeini, 1373 S.

Punya Pertanyaan atau Komentar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *