Selamat Datang di situs TanyaIslam.Net. Web ini berisi kumpulan tanya jawab seputar masalah dalam keislaman dan Anda pun bisa ikut mengirimkan pertanyaan kepada kami..

banner2
banner3
banner1

PERTANYAAN RANDOM


PERTANYAAN

Asslamualaikum Wr. Wb. 1. Kalau sudah memenuhi syarat safar dan perginya sebelum zuhur dan sampai di tempat tujuan sebelum zuhur juga, apakah boleh membatalkan puasa di batas tarakhus kalau kota tujuan adalah wathon? 2. Sama kasusnya tapi kota tujuan bukan wathon? Terima kasih.


JAWABAN


Dengan Nama-Nya Yang Mahatinggi

Pengguna Site Tanya Islam Yang Budiman,

Sehubungan dengan pertanyaan di atas, harap Anda memperhatikan beberapa poin berikut ini:

1.Seseorang itu dibolehkan mempunyai dua atau tiga watan. Watan dimana ia dilahirkan dinamakan dengan watan asli. Sedang watan yang ia jadikan dengan niatnya sendiri sebagai tempat tinggalnya selamanya dinamakan watan mustajid atau watan keduanya atau watan ketiganya. Seseorang yang safar pada bulan suci Ramadhan dan ia keluar dari watannya itu sebelum zawal atau sebelum masuk waktu salat Zuhur menuju ke kota lain atau ke watan keduanya yang sudah memenuhi masafah syar’i (45 km), maka ia boleh membatalkan puasanya di batas tarakhkhusy, walaupun ia yakin akan tiba di kota tujuannya itu atau di watan keduanya itu sebelum zawal pula. Dan jika ia membatalkan puasanya di tempat tersebut, maka ia diwajibkan mengqadanya. Tetapi jika sejak tiba di batas tarakhkhusy ia tidak membatalkan puasanya hingga tiba di kota tujuannya atau watan keduanya sebelum zawal, maka ia harus meneruskan puasanya dan puasanya itu dinilai sah secara syar’i. Tetapi jika ia tiba di kota yang ia tuju itu (baik kota itu adalah kota lain ataupun watan keduanya) setelah zawal, maka puasanya tidak sah.

Demikian pula jika seeorang yang ingin kembali dari safarnya menuju ke watan aslinya. Apabila jarak antara kota yang ia tuju dan ia tinggal di dalamnya itu dengan kota tempat tinggalnya atau watan aslinya itu sudah mencapai masafah syar’i, dan ia mulai meninggalkan kota tersebut sebelum zawal, maka hukumnya sama dengan hukum-hukum yang telah dijelaskan di atas.

2. Dengan memahami jawaban di atas, maka jawaban nomor dua ini akan dapat dipahami pula. [Tanya Islam.Net]

Punya Pertanyaan atau Komentar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *