Selamat Datang di situs TanyaIslam.Net. Web ini berisi kumpulan tanya jawab seputar masalah dalam keislaman dan Anda pun bisa ikut mengirimkan pertanyaan kepada kami..

banner2
banner3
banner1

PERTANYAAN RANDOM


PERTANYAAN

Dosa-dosa apa saja yang menyebabkan merobek-robek tirai penjagaan, turunnya malapetaka, merintangi doa dan sebagainya sebagaimana disinggung dalam doa Kumail?


JAWABAN


Dengan Nama-Nya Yang Mahatinggi

Pengguna Situs Tanya Islam Yang Budiman

Dalam menjawab pertanyaan ini harus dikatakan bahwa pada dasarnya dan secara umum setiap dosa berpotensi menjadi sebab runtuhnya pintu penjagaan manusia. Setiap dosa dapat menjadi sebab turunnya bala bencana, tidak terijabahnya doa, tercabutnya rezeki dan keberkahan hidup manusia dan lain sebagainya.

Pada dasarnya hal ini merupakan tipologi dan konsekuensi natural dari dosa. Hal ini merupakan sesuatu yang telah disinggung dalam sebagian referensi dan literatur Islam.

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa Allah Swt berfirman: ”Terkadang seorang hamba memohon sebuah hajat kepada-Ku dan Aku pun memenuhinya, namun ia berbuat dosa, Aku pun katakan kepada para malaikat: hamba-Ku ini telah membuat-Ku murka karena telah melakukan dosa, dan ia telah membuat dirinya berhak untuk tidak memperoleh nikmat, kemudian dengan kehendaknya sendiri ia tidak akan memperoleh dari-Ku, kecuali ia kembali menghambakan diri kepada-Ku”.[1]

Demikian pula Imam Ali As bersabda, Demi Allah Swt, tidak ada satu pun nikmat yang dicabut dari manusia, kecuali dikarenakan dosa mereka.”[2]

Pada beberapa penggalan kalimat pertama doa Kumail, boleh jadi Imam Ali As mencoba menyinggung kepada masalah ini, dengan pengulangan kalimat ini Imam Ali As hendak mengatakan bahwa wahai Tuhan-ku ampunilah setiap dosa yang dapat menjadi sebab turunnya bala bencana, tidak terijabahnya doa, dan lain sebagainya dariku, sebagaimana di akhir kalimat-kalimat ini Imam Ali as berkata lirih, Maafkanlah daku atas setiap dosa dan kejahatan yang telah kulakukan dan setiap kesalahan dan kelalaian yang lahir dari diriku.

Kaitan antara bala bencana dan beragam musibah dengan dosa dan maksiat, digambarkan Al Qur’an sebagai akibat dari dosa yang dilakukan manusia. Al-Qur’an menyatakan, ”Setiap bala bencana dan musibah yang menimpa kalian, adalah disebabkan perbuatan-perbuatan yang kalian lakukan dan banyak dari mereka itu telah dimaafkan oleh Allah Swt.” (Qs. Syura [42]:30)

Oleh karena itu, dari berbagai ajaran agama, baik dari ayat-ayat maupun riwayat-riwayat, dapat dipahami bahwa dosa memiliki peran penting dan pengaruh terhadap turunnya bala bencana sebagai perumpamaan, Imam Shadiq As bersabda: ”Kehidupan segala yang ada di laut bergantung kepada air hujan, ketiga hujan tidak turun maka seluruh apa yang ada di darat dan di laut akan binasa, dan ini akan terjadi ketika dosa-dosa telah melimpah.”[3]

Kesemua itu merupakan contoh sebagian riwayat yang menjelaskan secara umum tentang akibat dari dosa, namun ada sejumlah riwayat yang mencoba menyinggunng secara khusus akibat dosa yang akan kita sebutkan salah satu dari contoh tersebut pada kesempatan ini.

Abu Khalid Kabuli berkata, “Saya mendengar dari Imam Sajjad As, beliau bersabda: dosa-dosa yang menyebabkan nikmat itu menjadi berubah di antaranya adalah: berlaku aniaya terhadap orang-orang, meninggalkan perbuatan-perbuatan baik dan tidak berlaku ihsan kepada orang-orang, kufur nikmat dan tidak mensyukurinya. Allah Swt berfirman:Sesungguhnya Allah Swt tidak akan merubah nasib sebuah kaum sehingga mereka sendiri yang merubah dirinya.” (Qs. Al-Ra’ad [13]:11)  

Adapun dosa-dosa yang mendatangkan azab dan bala di antaranya adalah sikap aniaya yang dilakukan penganiaya sementara ia sadar apa yang dilakukannya, melewati batas kewajaran dalam memperlakukan orang-orang. Dosa-dosa yang membuat rezeki manusia tercabut, seperti menampakkan kefakiran, tidur ketika waktu salat Isya sehingga harus meng-qadhâ salatnya, demikian halnya salat Subuh, menganggap remeh berbagai nikmat serta mengeluh kepada Allah Swt. Adapun dosa yang meruntuhkan pondasi keimanan antara lain adalah minum minuman keras, judi, bersendagurau, berkata sia-sia dan tidak berguna, mencari-cari aib orang-orang dan berteman dengan manusia-manusia pendosa. Dosa-dosa yang menyebabkan turunnya bala-bencana dan malapetaka, seperti: tidak membantu orang-orang yang teraniaya, tidak perduli pada orang-orang fakir dan miskin dan tidak melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Dosa-dosa yang menyebabkan musuh-musuh bisa menguasai orang-orang atau masyarakat adalah seperti: perbuatan aniaya secara terang-terangan, dosa yang dilakukan dengan transparan, melakukan perbuatan haram, tidak mengikuti ucapan orang-orang saleh dan mengikut kepada para pendosa. Dosa-dosa yang membuat orang-orang menjadi binasa dengan cepat di antaranya adalah: memutuskan tali silaturahmi, bersumpah palsu, mengucapkan kata-kata yang tidak benar, zina, menutup jalan kaum muslimin dan mengklaim sebagai imamtanpa memiliki kelayakan sedikit pun. Dosa-dosa yang membuat putus asa adalah di antaranya: putus asa dari rahmat Allah Swt, lebih mempercayai selain Allah Swt, dan mendustakan janji-janji Allah Swt dan lain-lain. Dosa-dosa yang menghalangi terijabahnya doa-doa adalah di antaranya: niat jahat, batin yang kotor, bersikap munafik terhadap saudara, tidak menerima dan berlapang dada atas orang lain, menunda-nunda salat wajib hingga waktunya berlalu, tidak berbuat baik di jalan Allah Swt, tidak bersedekah dan meninggalkan perbuatan baik (ihsan), mudah berkata-kata kotor. Dan lain sebagainya.[4]

Menarik untuk dikatakan bahwa masing-masing dari kesemua ini, mungkin saja masih terdapat hal-hal yang lebih banyak lagi dan secara ringkasnya, cukup dengan mengisyarah kepada hal ini saja, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat bahwa ada banyak dalil dan alasan – sekitar 30 faktor – kenapa doa-doa itu tidak terijabah dan sebab-sebab tersebut bisa ditemukan pada hal-hal seperti: makanan haram, menggunjing, hasud, ujub, keras hati, riya dan lain sebagainya.[Situs TAnya Islam.Net]

Diadaptasi dari Islam Quest


[1]. Hasan Dailami, Irsyâd alQulûb ila alShawâb, jil. 1, hal. 150, Syarif Radhi, Qom, Cetakan Pertama, 1412 H.

[2]. Ibid.

[3]. Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr alAnwâr, jil. 70, hal. 349, Muassasah al-Wafa, Beirut, 1409 H.

[4]. Silahkan lihat, Hurr Amili, Wasâil alSyi’ah, jil. 16, hal. 282-283, Alul Bait, Qom, 1409 H.

Punya Pertanyaan atau Komentar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *