Dengan Nama-Nya Yang Mahatinggi
Pengguna Situs Tanya Islam Yang Budiman
Takut mati boleh jadi disebabkan oleh pelbagai faktor dan unsur yang beragam. Sebagian faktor tersebut akan disinggung secara ringkas sebagaimana berikut ini:
Seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw, “Mengapa saya tidak menyukai kematian?” Rasulullah bertanya, “Apakah engkau memiliki harta?” Saya menjawab, “Iya.” Rasulullah Saw bertanya lagi, “Apakah hartamu telah engkau kirimkan untuk hari esokmu?” Saya menjawab, “Tidak.” Rasulullah Saw bersabda, “Karena itulah mengapa engkau tidak menyukai kematian.”[1]
Hal ini sama dengan apa yang disampaikan oleh Imam Ali As secara lirih dalam tuturan mutiara hikmanya dan mengingatkan, “Oh.. Kurangnya bekal akhirat . Panjangnya dan jauhnya perjalanan. Agungnya tempat yang dituju.”[2]
Sebagaimana yang dapat disimpulkan dari riwayat ini bahwa sebab manusia takut mati karena tidak berusaha dan bekerja untuk akhirat, melainkan tidak mengindahkannya dan berpaling kepada dunia; hal ini telah menyebabkan runtuh dan rusaknya akhirat.
Manusia harus meyakini bahwa kematian adalah menjejakkan kaki di alam akhirat dan menikmati segala usaha yang pernah dilakukan di dunia ini. Keyakinan ini menuntut supaya manusia menunaikan tugas-tugas syariat dan kemanusiaannya dan berharap lebih pada rahmat Ilahi yang mahaluas. Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak hanya tidak takut mati namun juga akan merindukan pertemuan dengan Allah Swt.
Rasulullah Saw bersabda, “Kematian adalah hadiah bagi orang beriman.”[4] Amirul Mukminin Ali As bersabda, “Demi Allah! Putra Abu Thalib lebih mencintai kematian melebihi cintanya bayi terhadap dada (ASI) ibunya.”[5]
Dengan demikian, cara supaya tidak takut mati adalah menaruh perhatian kepada akhirat; karena tiadanya keyakinan terhadap Allah Swt dan hari Kiamat, melupakan akhirat dan tiadanya perbekalan yang disiapkan merupakan di antara faktor-faktor yang membuat manusia takut mati. [Situs Tanya Islam.Net]
Diadaptasi dari Islam Quest
[1]. Syaikh Shaduq, al-Khishâl, Penerjemah Kumrei, jil. 1, hal. 69, Kitabci, Cetakan Pertama, Teheran, 1377 S.
[2]. Abdul Wahid Tamimi Amadi, Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kilam, hal. 144, Daftar Tablighat Islami, Qum, 1366 S.
«آه مِنْ قِلَّةِ الزّادِ وَ طُولِ الطَّریقِ وَ بُعْدِ السَّفَرِ وَ عَظیمِ الْمُورِدِ»
[3]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, al-Kâfi, Riset dan Koreksi oleh Ali Akbar Ghaffari; Muhammad Akhundi, jil. 2, hal. 458, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, Cetakan Keempat, 1407 H.
«عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ (ع) قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى أَبِي ذَرٍّ فَقَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ مَا لَنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ فَقَالَ لِأَنَّكُمْ عَمَرْتُمُ الدُّنْيَا وَ أَخْرَبْتُمُ الْآخِرَةَ فَتَكْرَهُونَ أَنْ تُنْقَلُوا مِنْ عُمْرَانٍ إِلَى خَرَابٍ»؛
[4]. Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 70, hal. 171, Muassasah al-Wafa, Beirut, 1409 H.
[5]. Nahj al-Balâgha, hal. 52, Khutbah 5.