Tolong penjelasannya terkait dengan hal-hal yang mengantarai kisah pembuatan bahtera Nabi Nuh As yang disebutkan pada surah al-Hud?

Ayat 37 dan 38 surah al-Hud secara ringkas menyinggung tentang kisah pembuatan bahtera Nabi Nuh As. Tatkala Nabi Nuh telah berputus asa atas kaumnya bahwa mereka tidak lagi pantas mendapatkan petunjuk dan titah Allah Swt terkait dengan azab telah keluar, dari sisi Allah Swt disampaikan kepada Nabi Nuh As untuk membuat bahtera sesuai dengan titah kami dan di bawah pengawasan Kami, “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami.”
Maksud dari kata “a’yunina” (dengan pengawasan kami) menyinggung tentang bahwa segala usaha dan upayamu dalam urusan ini berada di bawah pengawasan kami. Karena itu dengan pikiran tenang silahkan lanjutkan pekerjaanmu membuat bahtera. Jelas bahwa perasaan ini bahwa Allah Swt itu hadir dan mengawasi serta menjaga juga memberikan kekuatan dan energi kepada manusia, di samping itu juga memberikan perasaan bertanggung jawab lebih kepada manusia!

Dari kata “wahyina” dapat disimpulkan bahwa Nabi Nuh juga belajar dari Allah Swt tentang bagaimana membuat bahtera; karena Nabi Nuh tidak mengetahui sisi kebesaran badai yang akan datang melanda sehingga ia harus membuat bahtera sesuai dengan badai yang akan datang dan wahyu Ilahi ini yang membantunya dalam membuat bahtera yang kuat dan besar.
Di samping itu, Nabi Nuh diperingatkan bahwa setelah ini untuk tidak meminta syafaat dan memohon ampunan untuk orang-orang durjana; karena mereka telah divonis dengan azab dan pasti akan karam, “Dan janganlah kamu mintakan syafaat kepada-Ku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”

Frase ayat ini dengan baik memahamkan bahwa syafaat tidak mungkin bagi setiap orang, melainkan memiliki syarat-syarat yang apabila tidak terdapat pada diri seseorang maka nabi Allah pun tidak memiliki hak memberikan syafaat dan memohonkan ampunan baginya.
Kaum Nuh, alih-alih menyikapi seruan Nabi Nuh secara serius dan minimal memberikan kemungkinan bahwa dengan segala desakan dan dakwahnya yang siang-malam Nabi Nuh ini bersumber dari wahyu Ilahi, dan boleh jadi info tentang badai juga bersifat pasti, namun tradisi orang-orang congkak dan sombong, tetap mengolok-ngolok dan mengejek Nabi Nuh. Kapan saja kaumnya lewat dan melihat Nabi Nuh dan para pengikutnya sibuk mempersiapkan kayu-kayu dan paku-paku serta media-media pembuatan bahtera, mereka mengolok-ngoloknya dan tertawa:

وَ یَصْنَعُ الْفُلْکَ وَ کُلَّما مَرَّ عَلَیْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْکُمْ کَما تَسْخَرُونَ
“Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali para pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Nuh berkata, “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).” (Qs. Hud [10]:38)

Malaun dalam frase ayat di atas bermakna pemimpin kaum yang mendapat perhatian masyarakat.[1] Artinya pemimpin dan aristokrat. Bangsawan yang lupa diri dimana-mana selalu mengolok-ngolok kaum mustadhafin dan menganggap mereka sebagai makhluk-makhluk rendah dan hina. Karena kaum mustadhafin tidak memiliki kemampuan dan kekuatan. Mereka tidak hanya mengolok-olok bahkan pikiran-pikiran kaum mustadafhin meski menjulang dan ajarannya betapapun mengakar serta amalan-amalannya meski penuh perhitungan namun dalam anggapan kaum mustakibirin tetap patut mendapat hinaan. Atas dasar itu, nasihat dan peringatan akan bahaya tidak lagi berguna bagi mereka.
Disebutkan bahwa masing-masing dari kaum bangsawan Nuh memilih jenis olok-olokkan yang membuat orang lain tertawa dan bersenang-senang.
“Wahai Nuh! Sepertinya seruan kenabianmu tidak laku dan kini engkau menjadi tukang kayu.” Olokan dari salah seorang mereka kepada Nabi Nuh.

Lainnya berkata, “Engkau membuat bahtera… okelah.. buatlah sekalian lautnya. Apakah engkau pernah melihat seorang berakal membuat bahtera di tengah lembah yang tandus.”
“Bahtera sedemikian besar buat apa? Paling tidak buatlah lebih kecil sehingga mudah bagimu menyeretnya ke laut.” Ejek sebagian yang lain.
Mereka berkata-kata dan tertawa. Hal ini mereka jadikan bahan obrolan di rumah-rumah dan pusat-pusat kerja mereka. Mereka berkata-kata tentang Nuh dan kebodohan para pengikutnya.

Lihatlah orang tua itu betapa malangnya nasib yang menimpanya? Sekarang kami paham mengapa kami tidak beriman terhadap apa-apa yang diucapkannya.” Namun Nuh dengan kekukuhan dan istiqamah yang luar biasa lahir dari iman yang kuat, melanjutkan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak menaruh perhatian ucapan-ucapan tak berdasar mereka. Nabi Nuh hari demi hari terus mempersiapkan kerangka bahtera dan hanya terkadang menegakkan kepala dan berkata kepada mereka dengan perkataan yang sangat sarat makna, “ Nuh berkata, “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).”

Hari tatkala badai berkecamuk kalian akan lihat dan lari tunggang langgang ke sana kemari namun tiada satu pun tempat untuk berlindung. Kalian berteriak di tengah amukan gelombang badai, kalian memohon supaya ditolong. Iya. Hari itu orang-orang beriman akan tertawa atas pikiran-pikiran, kelalaian, kebodohan dan kedunguan kalian. Pada hari itu kalian akan tahu siapakah yang akan menerima azab pedih dan hukuman abadi akan menjadi nasibnya.[2]

Ringkasnya Allah Swt pada dua ayat ini berfirman kepada Nuh untuk membuat bahtera dengan pengawasan kami dan sesuai dengan ajaran yang Kami ajarkan kepadamu. Janganlah meminta kepadaku untuk menarik azab bagi orang-orang durjana ini. Aku telah mengeluarkan ketentuan dan hukum karam bagi mereka. Ketentuan ini bersifat pasti dan sama sekali tidak akan berubah. Tindakan mengolok-ngolok kaum Nabi Nuh seperti ini kapan saja mereka melewati Nabi Nuh, maka setiap kelompok dari bangsawan dan aristokrat mereka akan mengolok-ngoloknya. Dan Nabi Nuh membuat bahtera di hadapan masyarakat dan tempat pembuatan bahtera ini berada di jalan yang dilewati oleh warga masyakarat.[3]

[1]. Sayid Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 10, hal. 223, Daftar Intisyarat Islami, Qum, 1417 H.
[2]. Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 9, hal. 90-92, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1374 S.
[3]. Silahkan lihat al-Mizân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 10, hal. 223-225.

© 2022 Tanya Islam. All Rights Reserved.