Apa maksud dari mengangkat bukit Thur di atas kepala kaum Bani Israel?

Dalam beberapa ayat lain telah dijelaskan kata “dan telah kami angkat di atasnya bukit Thur” atau semacamnya berkaitan dengan kaum Bani Israel sesuai dengan kitab-kitab tafsir yang ada, ayat ini mengisyaratkan tentang sebuah kejadian sejarah yang terjadi atas kaum Bani Israel dikarenakan pembangkangan mereka kepada hukum-hukum ilahi di zaman Nabi Musa As.

Allah Swt telah mengangkat bukit Thur dan menggerakannya di atas kepala mereka. Mengingat kekuasaan Allah Swt yang telah menciptakan bintang-bintang, planet dan galaksi bukanlah hal yang tidak mungkin Allah Swt mampu mengangkat serta menggerakan bukit Thur di udara.

Kemungkinan dan terjadinya peristiwa seperti ini telah dikabarkan dalam Al-Quran. Peristiwa ini secara rasional dan keilmuan juga bukan merupakan suatu hal yang mustahil sehingga membuat manusia heran dan takjub.

Surah al-Baqarah (2) ayat 62 yang berbincang tentang Bani Israel mengisyaratkan dua hal:

Pengambilan janji dari Bani Israel: Ikrar atau janji adalah sebagian unsur kata yang terdapat pada ayat al-Quran[1] dan juga hal ini dijelaskan pula dalam Perjanjian Lama yang berisikan tauhid, iman kepada para nabi yang diutus, berbuat baik kepada ibu bapak, orang terdekat, para yatim, orang yang tak mampu, bersedekah dan berinfak di jalan Allah Swt, berkata baik, menegakan shalat, mengeluarkan zakat, jauh dari pertumpahan darah dan yang lainnya…dalam surat al-Maidah ayat 12 orang yang memegang teguh aturan tadi maka mereka akan dijamin menjadi ahli surga.
Asal-usul terjadinya pengangkatan bukit Thur di atas kepala Bani Israel. Sesuai dengan kitab-kitab tafsir, peristiwa bukit Thur yang berada di atas kepala kaum Bani Israel adalah suata fakta dan realitas yang terjadi di zaman Nabi Musa As dan bukan terjadi pada awal-mula penciptaan. Disebutkan pada beberapa ayat dari ayat-ayat al-Quran dengan ungkapan “Dan kami telah angkat bukit Thur di atas kepala mereka” bahwa hakikat ayat tersebut dan semacamnya berhubungan dengan kaum Bani Israel.[2] Thabarsi menukil dari Ibnu Zaid, ”Ketika Nabi Musa As kembali dari bukit Thur Sina dan Taurat berada di tangannya kepada kaumnya ia mengabarkan bahwa kitab langit berada di dalam genggamannya yang berisi undang-undang agama yang menjelaskan yang halal dan haram, undang-undang yang telah di tetapkan Allah Swt untuk pekerjaan keseharian kalian, ambilah dan amalkanlah. Yahudi melihat hal ini mengeluarkan alasan yang tidak masuk akal bahwa tugas-tugas yang harus dijalankan sangatlah sulit dan susah maka mereka mengekspresikan ketidaktaatan dan pembangkangan, untuk itu Allah Swt memerintahkan malaikat untuk mengangkat batu besar dari bukit Thur Sina dan dipindahkan di atas kepala mereka.
Pada saat itu Nabi Musa As mengumumkan: Kalian telah ikrarkan janji untuk menaati aturan Tuhan maka bertaubatlah dari pembangkangan, maka azab ini tidak akan menimpa kalian jika tidak maka kalian akan binasa dalam sekejap. Merekapun menyerah dan Taurat pun mereka terima serta untuk kemurahan Allah swt mereka bersujud dimana setiap saat berharap kepala mereka dijauhkan dari bukit Thur Sina, maka dikarenakan berkat dari taubat, mereka dijauhkan dari azab ilahi.[3]

Oleh itu, ayat di atas menjelaskan tentang kebesaran dan kekuasaan Ilahi berhubungan dengan peringatan kepada orang-orang kafir dan para pembangkang dari aturan-aturan dan perjanjian -perjanjian para nabi yang kita lihat terjadi di dalam sejarah manusia.

Jika kita merenung dengan melihat kekuasaa-Nya yang telah menciptakan miliyaran bintang, tata-surya dan planet maka memisahkan gunung besar dari tempatnya dan mengangkatnya ke udara dengan kecepatan luar biasa bukanlah hal yang mustahil melainkan suatu hal yang sangat mungkin dan al-Quran sendiri telah merekam kejadian tersebut dan mengabarkannya kepada kita. (Seluruh gunung atau sebagian dari gunung telah di pindahkan dan digerakkan di atas kepala kaum Bani Israel) Dalam pandangan akal dan keilmuanpun bukanlah hal yang mustahil sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya sehingga kita tidak perlu heran terhadap peristiwa ini.

Mungkin dalam pandangan awam adalah peristiwa ini berada di luar kebiasaan akan tetapi yang harus dicamkan di sini kejadian seperti ini adalah mukjizat para nabi (seperti menghidupkan orang mati yang dilakukan Nabi Isa As, mengeluarkan onta dari dalam batu yang dilakukan oleh Nabi Saleh As dan mukjizat nabi yang lainya), bahwa semua adalah hal yang luar biasa di di luar akal kita, akan tetapi itu semua itu terjadi atas kehendak serta izin Allah Swt.

[1]. “Dan sungguh Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Isra’il dan Kami telah mengangkat di antara mereka dua belas orang pemimpin. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku bersamamu. Jika kamu mendirikan salat, menunaikan zakat, beriman kepada rasul-rasul-Ku, dan kamu bantu mereka serta kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sungguh Aku akan menghapus dosa-dosamu dan Kumasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Maka barang siapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (Qs. Al-Maidah [5]: 12)

[2]. Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu dan angkat (gunung) Thursina di atas (kepala)mu (seraya Kami berfirman), “Peganglah teguh-teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya (serta amalkanlah) agar kamu bertakwa.” “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji darimu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman), “Peganglah teguh-teguh segala sesuatu yang telah Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah (baik-baik)!” Mereka menjawab, “Kami telah mendengarkan, tetapi tidak menaati.” Dan karena kekafiran mereka itu, (kecintaan menyembah) anak sapi telah meresap di dalam hati mereka. Katakanlah, “Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu, jika betul kamu (memang) beriman (kepada Taurat)!” (Qs. Al-Baqarah [2]:: 63 & 93); “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang telah gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Qs. Al-Nisa [4]: 154); “(Dan (ingatlah) ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dalam kondisi demikian, Kami mengambil perjanjian dari mereka seraya berkata), “Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (dan amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al-A’raf [7]: 171)

[3]. Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Namune, jil. .1 hal.294, Dar al-Kutub al-Islamiyah Tehran, 1374 Syamsi.

© 2022 Tanya Islam. All Rights Reserved.