Selamat Datang di situs TanyaIslam.Net. Web ini berisi kumpulan tanya jawab seputar masalah dalam keislaman dan Anda pun bisa ikut mengirimkan pertanyaan kepada kami..

banner2
banner3
banner1

PERTANYAAN RANDOM


PERTANYAAN

Apa yang dimaksud dengan shaf pada ayat “Jaa Rabbuka wa al-malaku shaffân shaffâ?”


JAWABAN

Kata ini berikut derivasinya juga digunakan pada ayat-ayat al-Qur’an lainnya.[1] Makna “shaf” adalah meletakkan segala sesuatu pada garis berbaris lurus seperti barisan orang-orang dan barisan pepohonan.[2]

“Shaffân” pada ayat dari sudut pandang kesustraan Arab (Adâbiyat) memiliki fungsi hal (kondisi) bagi para malaikat.

Adapun dari sudut pandang makna, para ahli tafsir memberikan beberapa kemungkinan yang akan kita sebutkan sebagian sebagaimana berikut ini sebagai contoh:

1. Yang dimaksud dengan shaffân adalah bahwa para malaikat akan datang dalam barisan-barisan yang berbeda dan urutan barisan ini berdasarkan tingkatan dan derajat mereka masing-masing.[3]

2. Yang dimaksud dengan shaffân adalah turunnya para malaikat setiap langit dan mereka akan berdiri secara teratur dalam barisan sementara mereka mengitari jin dan manusia.[4]

3. Sebagian ahli tafsir menyerupakan barisan para malaikat seperti barisan salat berjamaah dimana para malaikat akan hadir secara berurutan dari barisan pertama, barisan kedua dan seterusnya.[5]

[1]. “Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhan-mu dengan berbaris. (Qs. Al-Kahf [18]:48); Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris.” (Qs. Thaha [20]:64); “(Maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berbaris (berdiri).” (Qs. Al-Hajj [23]:36) dan lain sebagainya.

[2]. Raghib Isfahani, al-Mufradât fi Gharib al-Qur’ân, hal. 486, Dar al-‘Ilm al-Dar al-Syamiyah, Damaskus – Beirut, 1412 H.

[3]. Abdullah bin ‘Amr Baidhawi, Anwâr al-Tanzil wa Asrâr al-Ta’wil, jil. 5, hal. 311, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1418 H.

[4]. Mahmud Zamakhsyari, al-Kassyâf ‘an Haqâiq Ghâmidh al-Tanzil, jil. 4, hal. 751, Dar al-Kutub al-‘Arabi, Beirut, 1407 H.

[5]. Muhammad bin Hasan Thusi, al-Tibyân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 10, hal. 347, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Tanpa Tahun.

Punya Pertanyaan atau Komentar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *