Bagaimana caranya agar saya dapat bergaul dengan orang lain tapi tidak terjerumus ke dalam dosa dan tetap bisa menjaga ketenangan serta tidak mudah marah?

Dalam  pertanyaan di atas, ada dua masalah yang mengemuka:
1. Mudah marah dan sensitif dari segi kejiwaan.
2. Masalah dalam bergaul dengan orang lain.
Kedua masalah di atas memiliki hubungan erat satu sama lain; karena sifat mudah marah membuat Anda kehilangan kesabaran, dan hal itu menimbulkan berbagai reaksi dalam perilaku Anda, yang boleh jadi reaksi tersebut adalah tindakan dosa (seperti mengejek dan mentertawakan orang lain) yang tentunya membuat kawan-kawan Anda merasa tak nyaman. Bukannya kami menyalahkan Anda secara total, namun tak dapat dipungkiri sikap peka dan sensitif Anda yang membuat Anda berbuat seperti ini.
Mengatasi amarah:
Untuk menganalisa Anda dan juga perilaku Anda, diperlukan pertemuan-pertemuan konsultasi psikologis dan bukan di sini tempatnya untuk mengurai hal tersebut.
Sedikit banyaknya, Anda memiliki masalah mudah marah, Anda pun juga mengakuinya. Pengetahuan Anda ini pada dasarnya adalah langkah awal yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah. Saat ini Anda pun tahu apa masalah Anda, yang diperlukan selain itu adalah tekad dan kemauan kuat untuk maju.
Supaya anda dapat mengkontrol diri saat berada di tengah-tengah anggota keluarga dan kawan-kawan Anda, Anda membutuhkan beberapa kegiatan yang perlu dilakukan rutin sebagai berikut:
  1. Introspeksi dan menilai kembali perilaku Anda sehari-hari:
Imam Musa Kazim As bersabda: “Bukanlah termasuk dari kami orang yang tidak melakukan introspeksi diri setiap hari; jika dalam satu hari ia melakukan kebaikan, hendaknya bersyukur kepada Tuhan dan memohon agar dapat melakukan lebih baik lagi, dan jika berbuat dosa meminta maaf kepada-Nya lalu bertaubat.”[1]
Untuk hal itu, sediakan buku catatan kecil, dan siapkan satu halaman untuk tiap minggu. Tulis hari-hari dalam seminggu, dan catat berapa kali Anda emosi dalam satu hari. Tiap malam Anda harus merenungi catatan yang Anda catat tiap hari tersebut. Jika Anda melihat diri Anda pernah emosi tidak pada tempatnya, celalah diri Anda. Jika pada suatu hari Anda berhasil mengkontrol diri Anda, ucapkanlah selamat pada diri anda. Praktikkan kegiatan tersebut tiap hari dan usahakan hari demi hari Anda mengurangi tingkat emosi Anda. Minggu kedua lakukan hal yang sama, dan di akhir tiap minggu lakukan perbandingan akhir minggu kali ini dengan akhir-akhir minggu lainnya. Teruskan hingga sebulan atau dua bulan. Jika Anda melakukannya dengan benar, tentunya tingkat emosi anda semakin menurun.
B. Setiap malam saat berbaring hendak tidur dengan posisi yang nyaman katakanlah kata-kata berikut ini kepada diri Anda sendiri: “Aku mampu mengendalikan emosiku dan aku yakin Tuhan akan menolongku untuk menjadi orang yang lebih baik.”
C. Bergaullah dengan orang-orang yang menurut Anda memiliki perangai baik dan tak mudah marah. Berusahalah untuk meniru perilaku dan sikap mereka. Sedikit demi sedikit pribadi Anda akan berubah menjadi seperti mereka.
D. Sebagaimana yang dinasehatkan oleh tokoh-tokoh besar, seperti Ayatullah Bahjat, sering-sering mengucapkan shalawat dengan sugesti dan yakin yang mantap bahwa hal itu dapat menolong Anda mengurangi emosi.[2]
E. Memperhatikan adab-adab bergaul dengan sesama, yang di antaranya seperti:
1. Manusia saat menyukai sesuatu harusnya menyadari bahwa orang lain pun juga menyukainya, dan jika membenci sesuatu orang lain pun membencinya, oleh itu hendaknya melakukan sesuatu yang disukai dan meninggalkan yang dibenci bagi sesama. Imam Ali As bersabda: “Apa yang kau inginkan untukmu maka inginkanlah hal itu pula untuk selainmu, dan apa yang kau benci bagi dirimu maka bencilah itu bagi orang lain. Janganlah berbuat zalim, sebagaimana engkau tidak mau dizalimi. Berbuatlah baik sebagaimana engkau juga ingin diperlakukan dengan baik…”[3]
2. Jawablah perilaku buruk orang lain terhadap Anda dengan perbuatan baik. Sebisa mungkin lupakan keburukan-keburukan mereka dan jangan berusaha untuk membalas dendam. Karena orang yang berjiwa besar selalu mudah memaafkan, namun orang yang berjiwa sempit dapat dengan cepat marah dan berusaha membalas dendam.
Imam Ali As bersabda: “Cepat memaafkan adalah kriteria akhlak orang-orang besar, sedangkan mudah membalas dendam adalah akhlak orang yang rendah.”[4]
Beliau juga bersabda: “Seorang yang jantan adalah yang membalas perilaku buruk dengan kebaikan.”[5]
3. Pahami kembali posisi Anda di lingkungan sosial sekitar Anda, dan berusahalah untuk tidak campur tangan pada masalah-masalah yang tak ada kaitannya dengan Anda. Dalam hal-hal yang Anda memiliki wewenang di situ Anda dapat memberikan tanggapan dan pandangan Anda, dengan syarat tidak terlalu berlebihan, karena akan merusak martabat pribadi Anda. Kesalahan dalam bersikap sesuai dengan posisi sosial dapat mengakibatkan permusuhan, dengki, fitnah, menggunjing dan hal-hal lain yang tak diinginkan dan diharamkan.
Rasulullah Saw bersabda: “Salah satu tanda seorang Muslim yang baik adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang tak ada hubungannya dengannya.”[6]
Imam Shadiq As juga berkata: “Janganlah kalian ikut campur dalam perkara yang tak ada kaitannya dengan kalian, karena jika tidak kalian akan hina.”[7]
4. Mewujudkan hubungan penuh cinta antar anggota keluarga dan teman, adalah satu lagi dari faktor-faktor mengembangkan pribadi yang baik. Berhadapan dengan orang lain dengan tatapan penuh senyum dan terbuka, membuat mereka merasa nyaman dan siap berkomunikasi dengan baik dengan Anda. Jadi berusahalah untuk menyikapi mereka dengan ramah.
Rasulullah Saw bersabda: “Jika seorang yang beriman menghibur saudaranya dengan perkataan yang baik, lalu orang itu bahagia, selama ia bahagia Allah Swt terus mencurahkan rahmat-Nya kepada Mukmin tersebut.”[8]
Begitu pula Imam Baqir As bersabda: “Senyum seseorang kepada saudara seimannya adalah suatu kebaikan.”[9]
Dengan demikian berusahalah untuk menjalin hubungan yang baik dan penuh cinta dengan anggota keluarga dan kawan-kawan Anda. Selain bersikap ramah, ada kalanya Anda perlu membantu mereka memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dan bertoleransi saat mereka sedang tertimpa kesusahan.
5. Di dalam kehidupan bermasyarakat, segala macam orang dengan pribadi yang bermacam-macam dapat ditemukan: baik, buruk, pintar, bodoh, kaya, miskin dan seterusnya. Tidak benar jika kita memilih jalan menyendiri untuk menghindari sebagian dari mereka. Kita harus bersikap bijak terhadap mereka, dan berusaha untuk tak bergaul dengan orang-orang yang bersifat tercela untuk mengamankan diri, agama dan harta kita dari keburukan mereka.Tidak benar juga jika dalam pergaulan kita meninggalkan kawan-kawan yang baik dan bergabung dengan teman-teman yang buruk.
Imam Ali As bersabda: “Yang duduk bersama orang-orang berprilaku buruk, tidak akan menjadi baik.”[10]
Beliau juga bersabda: “Selayaknya orang yang berakal terus berteman dengan orang-orang baik dan menghindar dari persahabatan dengan orang-orang yang jahat dan pendosa.”[11]
Jadi, hindari bergaul dengan orang-orang yang suka mencaci dan mentertawakan orang lain dan pendosa. Semoga berhasil. [iQuest]
Catatan Kaki
[1]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, al-Kâfi, jld. 2, hal. 453, Dar Al-Kutub Al-Islamiah, Tehran, 1365 H.S.
[2]. Website Ayatullah Bahjat Rah dalam poin-poin penting kearifan.
[3]. Ibnu Syu’bah al-Harrani,, Tuhaf al-Uqûl, Terjemahan Persia oleh Ja’fari, Behrad, hal. 72, Nasyr Islamiah, Teheran, Cetakan Pertama, 1380 S.
[4]. Abdul Wahid bin Muhammad Tamimi Amadi, Ghurar al-Hikam, hal. 245, Hadis 5005 dan hal. 346, Hadis 7953, Daftar Tablighat Qum, 1366 H.S.
[5]. Ghurar Al-Hikam, hal. 59, Hadis 629.
[6]. Muhaddits Nuri, Mustadrak al-Wasâil, jld. 9, hal. 4, Muasasah Alu al-Bait Qum, 1408 H.
[7]. Muhammad Baqir Majlisi, Bihâal-Anwâr, jil. 75, hal. 204, Muasasah al-Wafa’ Beirut, Libanon, 1404 H.
[8]. Syaikh Hurr Amili, Wasâil al-Syi’ah, jil. 16, hal. 376, Muasasah Alu  al-Bait Qum, 1409 H.
[9]. Al-Kâfi, jil. 2, hal. 188.
[10]. Ghurar al-Hikam, hal. 431, Hadis 9830.
[11]. Ghurar al-Hikam, hal. 430, Hadis 9796.
© 2022 Tanya Islam. All Rights Reserved.