Apakah adanya guru dalam proses tazkiyah dan konstruksi diri itu diperlukan?

Tentu saja tatkala ilmu-ilmu lahir dan empirik; seperti kedokteran fisikal memerlukan guru maka tentu saja kedokteran spiritual yang nota-bene lebih sulit dan pelik tentu memerlukan dokter dan guru.
Namun hal ini, merupakan sebuah jalan yang untuk melintasinya manusia dibimbing oleh guru terbesar. Guru pertama bagi seluruh manusia dan menjadi pembimbing mereka adalah Allah Swt. Dalam al-Quran disebutkan, “Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (Qs. Al-Baqarah [2]:257) dan “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al-Ankabut [29]:99)
Karena itu dengan memohon pertolongan dan bersandar sepenuhnya kepada-Nya  akan membantu  manusia dapat memuluskan langkah kakinya di jalan tazkiyah ini dan apabila dalam perjalanan ini, Allah Swt mengaruniai seseorang saleh dan bertakwa (sebagai guru), maka hendaknya manusia memanfaatkannya sebaik mungkin. Namun apabila ia tidak memperoleh karunia seperti ini, maka ia tidak boleh berhenti melangkah dan berputus asa. Ia harus tetap melangkah dengan mengamalkan apa saja yang diketahuinya sehingga dengan demikian Allah Swt akan menganugerahkan kepadanya ilmu atas apa saja yang tidak diketahuinya.
Dalam sebuah hadis disebutkan, “Barang siapa yang mengamalkan apa yang diketahuinya, maka Allah Swt akan menganugerahkan ilmu yang tidak diketahuinya.”[1]
Dalam sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Ayatullah Bahjat Ra, “Apakah guru diperlukan dalam proses tazkiyah dan perjalanan sair dan suluk? Ayatullah Bahjat Ra menjawab, “Gurumu adalah ilmumu. Amalkan apa yang engkau ketahui. Apa yang tidak engkau ketahui akan mencukupimu.” Demikian juga dalam menjawab pertanyaan seseorang, “Saya memutuskan untuk menjalankan proses sair dan suluk. Amalan apa saja yang harus saya lakukan?” “Meninggalkan maksiat untuk hidup seribu tahun sudah mencukupi (untuk proses sair dan suluk).”[2] Jawab Ayatullah Bahjat Ra.
Oleh itu, Guru Pertama adalah Allah Swt dan atas maksud ini, Allah Swt mengutus para nabi untuk menghidayahi seluruh manusia. Setelah para nabi adalah para Imam Maksum As dan setelah itu adalah manusia-manusia bertakwa dan saleh yang menjadi guru-guru bagi manusia.
Apabila ia tidak memiliki guru khusus maka ia dapat memohon pertolongan Allah Swt, ruh Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As dan segera memulai dan melanjutkan perjalanan. Ia harus memandang ilmunya laksana guru yang akan membimbingnya dengan baik dan mencegahnya dari perbuatan maksiat. Meninggalkan maksiat dan menunaikan segala kewajiban akan menyebabkan kesempurnaan dalam perjalanan ini.
Akhir kata kiranya kami merasa perlu mengingatkan bahwa jawaban pertanyaan Anda masih bersifat umum. Sekiranya Anda ingin mengetahui secara lebih spesifik, dengan menyebutkan jenjang pendidikan Anda, silahkan ajukan kembali pertanyaan kepada kami. Terima kasih. [iQuest] 


[1]. Mahajjat al-Baidhâ, jil. 6, hal. 24; Bihâr al-Anwâr, jil. 89, hal. 172; al-Kharâij, jil. 3, hal. 1058.  [2]. Be Suye Mahbub, Dastur al-‘Amal-hâ wa Râhnemâi-hâ Hadhrat Ayatullah Bahjat, hal. 58.  

© 2022 Tanya Islam. All Rights Reserved.