Selamat Datang di situs TanyaIslam.Net. Web ini berisi kumpulan tanya jawab seputar masalah dalam keislaman dan Anda pun bisa ikut mengirimkan pertanyaan kepada kami..

banner2
banner3
banner1

PERTANYAAN RANDOM


PERTANYAAN

Apa yang dimaksud dengan “Makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah akal?”


JAWABAN

Dengan
Nama-Nya Yang Mahatinggi

 


Pengguna Site Tanya Islam Yang Budiman, 


     Pertama-tama kita harus mendefinisikan apa akal itu. Akal (akal dalam istilah filsafat adalah sebagaimana malaikat dalam istilah
syar’i dan al-Qur’an) adalah sebuah
substansi non materi, baik secara dzat maupun secara perbuatan. Dia bukan saja
non materi dan non jasmani, bahkan juga tidak membutuhkan keberadaan badan atau
jasmani untuk melakukan aktifitas-aktifitasnya, walaupun hanya sebagai sarana
saja, baik di alam tabiat (alam materi) maupun di alam metafisik. Eksistensi non
materi semacam ini dinamakan juga dengan “eksistensi non materi
sempurna”.


    Akal
mampu memberikan pengaruh pada eksistensi-eksistensi alam tabiat dan tidak
sebaliknya, yakni dirinya sendiri sama sekali tidak menerima pengaruh dari
eksistensi-eksistensi alam tersebut. Pada prinsipnya eksistensi non materi
sempurna ini benar-benar konstan dan tidak mengalami perubahan, pergantian,
maupun gerak pada dzatnya. Dan karena masa, ukuran gerak dan yang sejenisnya
bersama dengan alam tabiat, maka non materi sempurna inipun berada di luar
zaman dan ruang sehingga menisbatkan masa dan ruang kepadanya tidak akan
bermakna.


     Perlu
untuk diperhatikan bahwa akal dengan makna “eksistensi non materi
sempurna” ini tidak boleh disalah artikan dengan salah satu dari kekuatan
dan fakultas jiwa manusia yang dipergunakan untuk berpikir, berkontemplasi, dan
untuk menemukan ide-ide baru.[1]

Tentu
saja, sebagaimana alam penciptaan dan alam makhluk yang dari satu sisi
diklasifikasikan ke dalam tiga alam secara global yaitu alam materi, alam
mitsal, dan alam akal, maka pemahaman manusia pun diklasifikasikan ke dalam
pemahaman inderawi, imajinasi, dan akal (pemahaman universal).


      Dan
jiwa manusia dalam setiap tahapan pemahaman dan pemikiran berinteraksi dengan
alam yang sesuai dengan tahapan penginderaan yang dimilikinya.


     Dari
sinilah jiwa dan kekuatan pemahaman manusia pada tahapan pemahaman universal
berinteraksi dengan alam non materi sempurna (yaitu alam akal) dan dia akan
mendapatkan kemuliaan dari alam tersebut sesuai dengan kapabilitas, keluasan,
dan kualitas wujudnya.[2]

 


Akal,
Ciptaan pertama

     Para
filosof Ilahi, baik dari aliran Peripatetik, Iluminasi, maupun para pendukung
Hikmah Muta’aliyah seluruhnya sepakat bahwa alam akal itu ada.

    Dan
alam ini merupakan perantara untuk penciptaan alam-alam yang di bawahnya
(meskipun di dalamnya masih terdapat perbedaan pendapat tentang jumlah akal
serta metode perbanyakan akal). Terbaiknya eksistensi akal tidak lain adalah
akal pertama atau ciptaan pertama yang memiliki karakteristik-karakteristik
berikut:

1.   
 Wahid dan tunggal;

2.   
Aktual (lawan
potensial);

3.   
Wujudnya tidak
bergantung pada materi, masa, dan potensi;

4.   
Tidak membutuhkan
sesuatu yang lain selain Dzat IIahi dalam mewujudkan dan memberikan pengaruh.


      Dari
pembahasan filsafat berkenaan dengan teori sebab dan akibat (Prinsip
Kausalitas), kaidah yang telah terbukti di dalam teori ini adalah “adanya
kemiripan dan keidentikan (as-sinkhiyat) antara sebab dan akibat“.


   Konsekuensi
yang bisa diambil dari prinsip ini terbukti bahwa akibat merupakan
manifestasi dan tajalli dari sebab, dan pada prinsipnya bisa dikatakan
bahwa akibat merupakan tahapan menurun dari sebab-nya sendiri.

     

      Berdasarkan
prinsip di atas, dengan semakin tinggi dan semakin mulianya sebab, hal
ini juga akan meniscayakan semakin tinggi dan semakin mulianya akibat-nya.
Demikian juga dengan semakin baik, semakin sempurna, dan semakin kuatnya sebab,
akibat yang akan ditimbulkannya pun akan semakin baik, semakin sempurna,
dan semakin kuat.


      Seluruh
kebaikan dan kesempurnaan Tuhan akan hadir dan termanifestasi di dalam akal
pertama. Akal pertama ini merupakan eksistensi yang paling sempurna di alam
penciptaan dan di antara seluruh makhluk yang ada, ia merupakan eksistensi yang
lebih mulia, lebih sempurna, lebih tidak berangkap, dan lebih kuat di antara makhluk-makhluk
lainnya.


      Akan
tetapi, pada saat yang bersamaan, hubungannya dengan Tuhan (Wajibul Wujud) seperti
sebuah kebutuhan, kefakiran, dan kebergantungan wujud, dan karena itulah
sehingga ciptaan pertama ini dengan segala kesempurnaan wujud yang dimilikinya
masih tetap diselimuti oleh ketidaksempurnaan dzat dan keterbatasan
eksistensial jika dibandingkan dengan Yang Maha Sempurna. Sebuah keterbatasan
yang dibutuhkan untuk menjadi sebab bagi alam lainnya dan dalam
posisinya sebagai makhluk Ilahi.


   Keterbatasan
eksistensial ini akan menentukan tingkatan, menetapkan derajat, menegaskan tahapan
wujud akal pertama, dan meniscayakan kuiditas (mahiyah) kemakhlukannya.
Karena kuiditas (mahiyah) itu merupakan batasan wujud itu sendiri,
dengan demikian setiap eksistensi terbatas niscaya memiliki mahiyah.  


     Akal
pertama, meskipun merupakan sebuah eksistensi yang tunggal (yakni akal pertama
itu hanya satu), akan tetapi di dalam esensinya memiliki semacam keragaman dan kejamakan.
Dan keragaman inilah yang memungkinkan untuk menciptakan keberagaman yang lain.
Hal ini berlawanan dengan Dzat Tuhan yang sama sekali tidak memiliki keragaman dan
kejamakan dalam dzat-Nya.[3]

 

Perspektif
Irfan

     Sebagaimana
halnya pembahasan Irfan lebih tinggi dari pembahasan filsafat, maka kaidah
filosofi yang terdapat dalam irfan memiliki warna irfani tersendiri yang lebih dalam,
lebih teliti, dan lebih cermat dibandingkan dengan metode filsafat.


      Pancaran
(ash-shudur) yang merupakan unsur asli dari kaidah “al-wahid[4]
memiliki makna khas dalam filsafat seperti “penciptaan”,
“sebab”, dan sepertinya. Dan makna filsafat ini sama sekali berbeda
dengan makna irfaninya seperti “tajalli”, “manifestasi” dan
“penampakan”.


       Ketika
dalam filsafat dan irfan terdapat perbedaan unsur-unsur asasi dalam kaidah di
atas, dan maknanya dalam irfan lebih tinggi dari pemahaman dalam filsafat, meskipun
prinsip hukum kausalitas dalam filsafat dan irfan tidak bisa ditafsirkan ke
dalam satu batasan, maka secara pasti, makna kaidah “al-wahid
pada dua cabang ilmu akal (filsafat) dan penyaksian mistikal (irfan) ini akan menjadi
berbeda.


    Dan
kesimpulannya, “ciptaan pertama” yang terdapat dalam “pemikiran
intelektual kaum filosof” dengan “penampakan pertama (tajalli
pertama)” dalam “penyaksiaan kaum Arif” terdapat perbedaan asasi.


      Dengan
demikian, jika eksistensi-eksistensi merupakan realitas-realitas yang
bergradasi dari satu hakikat wujud yang tidak terbatas dimana Tuhan  merupakan eksistensi yang paling tinggi dan
paling sempurna, maka tidaklah sulit memberikan ilustrasi tentang
“terpancarnya” atau terciptanya suatu realitas yang bergradasi yang secara
mutlak bergantung kepada eksistensi yang paling tinggi (baca: Tuhan).


     Dengan
berpijak pada hal itu, bisa dikatakan bahwa realitas tunggal (akal pertama atau
tajalli pertama) yang terpancar dari Tuhan adalah suatu eksistensi tunggal yang
bergradasi yang secara mutlak bergantung kepada Sang Pencipta pada keseluruhan
hakikat wujudnya mulai dari realitas yang terendah hingga pada realitas yang
tertinggi.


    Berdasarkan
konsep gradasi wujud, yang terpancar dari Tuhan adalah suatu  realitas hakiki yang bergantung secara mutlak
kepada-Nya dan tidak memiliki sedikitpun kemandirian eksistensial (atau dengan
ungkapan yang lebih cermat dikatakan bahwa realitas yang terpancar itu tidak
lain adalah kebergantungan dan kebutuhan itu sendiri yakni bukan bermakna bahwa
ada suatu realitas yang bergantung kepada Tuhan).


     Dengan
asas ini, maka tidak bisa ditegaskan adanya kesatuan mutlak, kenonmaterian
mutlak,  dan yang sepertinya pada seluruh
eksistensi termasuk Dzat Tuhan.


     Dan
kesimpulannya, ayat yang berbunyi “Dan perkara kami kecuali hanya satu” tidak
bisa ditafsirkan secara cermat, karena dalam perspektif itu, walaupun Tuhan
diletakkan sebagai wujud yang memiliki kesatuan hakiki, akan tetapi kesatuannya
bersifat nisbi dan bukan hanya milik-Nya, yakni hubungan Tuhan dengan
“pancaran-Nya” tidak memiliki syarat dan merupakan kesatuan murni, namun karena
Dzat Tuhan sendiri bersyarat dengan ketiadaan kejamakan yakni Dzat-Nya bukan
tidak bersyarat sama sekali, oleh karena itu, dalam inti Dzat-Nya sendiri
memiliki syarat (yakni ketiadaan kejamakan dan ketidakberangkapan) yang menjadi
penghalang bagi kemutlakan Dzat-Nya.


   Ketika Dzat Tuhan memiliki syarat, maka seluruh realitas selain-Nya pun
mempunyai syarat dan tidak bersifat mutlak serta sesuatu yang terpancar dari
Dzat Tuhantidak lain adalah satu kesatuan yang terbentang secara tertutup.
Realitas yang terpancar itu bukanlah rahmat Tuhan (rahmat Munbasith) yang
mutlak yang terbentang secara tak terbatas sebagaimana yang ditegaskan oleh
irfan.


   Irfan,
di samping memiliki perspektif yang mendalam dan tinggi atas unsur asli dari
kaidah al-wahid itu juga memiliki penjabaran yang baru atas prinsip
kausalitas, mampu merumuskan suatu teori tentang “kesatuan bayangan” (yakni
suatu realitas tunggal dan mutlak yang tidak lain merupakan bayangan dari
ketunggalan dan kemutlakan Tuhan) yang tidak hanya mencakup dua rahmat Tuhan
(yakni rahmat Aqdas dan Muqaddas) bahkan lebih luas dari itu
(yakni rahmat Munbasith atau Nafas Rahmaniyah). Karena apa pun
warna dan bentuk tajalli dari Tuhan berada dalam cakupan rahmat Munbasith
dan Nafas Rahmaniyah yang tidak memiliki syarat sama sekali kecuali
syarat kemutlakan itu sendiri dan tidak ada batasannya sama sekali kecuali
keluasan itu sendiri serta tidak memiliki kuiditas sama sekali atau yang serupa
dengannya.


     Kesimpulannya,
pembahasan tentang kebergantungan kuiditas (al-imkan al-mahuwi) dalam
filsafat Peripatetik dan Iluminatif, bahkan pembahasan tentang kebergantungan
eksistensial (al-imkan al-faqr) dalam Hikmah Muta’aliyah (Filsafat Hikmah) sama sekali
tidak berkaitan dengan Nafas Rahmaniyah itu. Karena kebergantungan
eksistensial itu adalah “wujud hubungan” (al-wujud al-râbeth) itu
sendiri yang murni bergantung kepada Realitas Yang Mandiri, dan sesuatu yang sama
sekali tidak memiliki wujud bagaimana mungkin memiliki kebergantungan
eksistensial ala filsafat itu.

  

     Namun,
kebergantungan eksistensial itu, dalam irfan, bermakna manifestasi, bayangan,
tajalli, dan ayat yang tidak dikategorikan sebagai realitas wujud (karena wujud
hanya dinisbahkan kepada Yang Maha Sempurna). Dalam hal ini tidak ada
pembahasan tentang adanya kerangkapan antara wujud dan kuiditas dalam
manifestasi pertama, begitu pula tidak ada gagasan tentang adanya ciptaan pertama,
kedua, ketiga, dan seterusnya. Karena sebagaimana Tuhan – Yang Awal dan Yang
Terakhir, Yang lahir dan Yang Batin – 
tidak memiliki dua realitas (tidak ada dua Tuhan), maka Nafas
Rahmaniyah
dan Rahmat Munbasith-Nya yang tidak lain adalah
manifestasi dari “Dia Yang Awal dan Yang Terakhir, Dia Yang Lahir dan Yang
Batin” juga tidak mempunyai dua, tiga, dan seterusnya. Nafas Rahmaniyah-Nya
hanya satu dan tunggal, sebagaimana Dia Yang Maha Esa.

 

Akal
pertama tidak lain adalah Cahaya Muhammad

     Alam
mayor (alam kabir) adalah kumpulan dimensi ruhani dan jasmani atau gabungan
batin dan lahir. Alam mayor sebagai bentuk hakikat insan, wajah hakiki manusia,
dan khalifah gaib. Manusia sempurna merupakan manifestasi sempurna hakikat
insaniah, tajalli kesempurnaan segenap alam mayor, pengatur alam, dan hakikat
manusia sempurna senantiasa dalam kegaiban karena ia tersifati dengan sifat
Ilahi yang juga senantiasa berada dalam kegaiban.

    Sebagaimana
khalifah dan hakikat insaniah merupakan perantara rahmat rahmaniah (alam takwiniah)
dan rahmat rahimiah (alam tasyri’iah) Tuhan atas segenap realitas ruhani dan
jasmani, karena perantara dan wasilah dalam rahmat Ilahi adalah akal pertama,
dan akal pertama merupakan manifestasi pertama hakikat insaniah seperti sabda
Rasulullah saw, “Yang dicipta pertama kali oleh Tuhan adalah cahayaku.” Maka
dengan ini, khalifah adalah gaib dan alam bersifat lahir dan nampak (tidak
gaib).


     Khalifah
terposisikan sebagai jiwa bagi alam, sebagaimana posisi jiwa (yang bersifat gaib)
terhadap badan (yang bersifat nampak).[5]


     Karena
Tuhan Yang Maha Tinggi menciptakan Cahaya Muhammad saw itu, maka dalam Cahaya
Muhammad ini terkumpul secara tunggal segenap jiwa para nabi dan wali sebelum
mereka dihadirkan secara partikular di alam eksternal. Realitas yang tunggal
ini berada pada tingkatan akal pertama.

     

     Kemudian
jiwa-jiwa tersebut mengalami manifestasi dan mengalami penurunan pada tingkatan
Lauh Mahfuz yang biasa disebut dengan Jiwa Universal (sebagai Pengatur ‘Arsy).
Setelah itu, jiwa-jiwa itu mendapatkan cahayanya masing-masing yang secara
esensial berbeda satu sama lain sedemikian sehingga mereka hadir di alam materi
ini dengan cahaya-cahaya mereka sendiri yang berbeda itu.[6][iQuest]

 

Sumber: Islam Quest

 

 



[1] . Ubudiyyat Abdurrasul, Dar Omadi bar Falsafe-ye Islami,
Muassasah Omuzesy wa Pozuhesyi Imam Khomeni, hal. 186.

[2] . Allamah Thabathabai, Bidayatul Hikmah, bagian
kesebelas, pasal kedua, hal. 14-0-143 dan bagian keduabelas, pasal kesembilan,
hal. 171-172. Nihayatul Hikmah, bagian kesebelas, pasal, ketiga, hal.
243-246 dan bagian keduabelas, pasal kesembilan, hal. 313-323. Mulla Sadra, Al-Hikmah
al-Muta’aliyah
, jilid pertama, hal. 303 dan jilid ketujuh, hal. 262-276.
Taqi Misbah Yazdi, Ta’liqah Nihayatul hikmah, hal. 335 dan 460. 

[3] . Ali Syirwani, Tarjemeh wa Syarh-e Bidayatul Hikmah,
jilid keempat, hal. 236, MakrkazeIntesyarat Daftar-e Tablighat-e Islami Hauzah
Ilmiyah Qom.

[4] . Salah satu pembahasan dalam filsafat Islam adalah berkaitan
tentang kaidah “al-wahid la yashduru anhu illal wahid”. Lihat: Allamah
Thabathabai, Bidayatul Hikmah, bagian ketujuh, pasal keempat, hal.
113-114 dan Nihayatul Hikmah, bagian kedelapan, pasal, keempat, hal.
165-167.

 

[5]. Ayatullah Jawadi Amuli, Talkhish
Tahrir Tamhidul Qawa’id
, hal. 50-53, Intesyarat az-Zahra.  

[6]. Ayatullah Hasan Zodeh Amuli, Syarh-e
Fushushul Hikam
, hal. 52, Sozemon Job wa Intesyarat-e Wezarat-e Farhang wa
Irsyad. Dan, Syarh-e
Fushushul Hikam Jamy
.

Punya Pertanyaan atau Komentar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *