Selamat Datang di situs TanyaIslam.Net. Web ini berisi kumpulan tanya jawab seputar masalah dalam keislaman dan Anda pun bisa ikut mengirimkan pertanyaan kepada kami..

banner2
banner3
banner1

PERTANYAAN RANDOM


PERTANYAAN

Kenapa ada surat yang dinamakan surat al-Ikhlas? Padahal tidak ada kata ikhlas dalam surat tersebut?


JAWABAN

Surah “Qul Huwallahu Ahad” memiliki nama yang bervariasi[1] dan salah satunya adalah al-Ikhlas. Dalam beberapa riwayat juga surah Qul Huwallahu Ahad ini disebutkan dengan nama surah al-Ikhlâs.[2]
Para ahli tafsir menyebutkan beberapa alasan atas penamaan surah ini sebagai surah al-Ikhlas:
Karena tidak menyebutkan sesuatu yang lain selain tauhid[3] dan murni (khâlish)menyebutkan sifat-sifat Tuhan.[4]
Barang siapa yang menemukan keyakinan padanya dan mengakui kandungan ajarannya maka ia akan menjadi seorang Mukmin yang tulus dan ikhlas.[5]
Sebab terbebasnya dan terlepasnya ahli tauhid dari api neraka.[6]
Barang siapa yang menemukan nama-nama dan sifat-sifat dalam surah ini serta beriman kepada hakikat-hakikat dan makna-maknanya, maka ia akan terbebas dari segala jenis kemusyrikan, kemunafikan dan penyimpangan sehingga ia menjadi orang yang mukhlis dalam niat dan perbuatan.[7]  

[1]. Silahkan lihat Kartu Identitas Tuhan, Pertanyaan 33543
[2]. Nu’man bin Muhammad Maghribi Ibnu Hayyun, Da’âim al-Islâm wa Dzikr al-Halâl wa al-Harâm wa al-Qadhâyâ wa al-Ahkâm, Riset dan Edit oleh Ashif Faidhi, jil. 1, hal. 147, Muassasah Alu al-Bait As, Qum, Cetakan Kedua, 1385 H; Syaikh Shaduq, ‘Uyûn Akhbâr al-Ridhâ As, Riset dan Edit oleh Mahdi Lajuardi, jil. 2, hal. 270, Nasyr Jahan, Teheran, Cetakan Pertama, 1378 H; Syaikh Thusi, Mishbâh al-Mujtahid wa Silâh al-Muta’abbid, jil. 1, hal. 315, Muassasah Fiqhu al-Syi’ah, Beirut, Cetakan Pertama, 1411 H.
[3]. Abu Hammid bi Yusuf al-Andalusi, al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir, Riset oleh Muhammad Jamil Shiddiqi, jil 3, hal. 22, Dar al-Fikr, Beirut, 1420 H; Muhammad bin Ahmad Qurthubi, al-Jâmi’ Liahkâm al-Qur’ân, jil. 4, hal. 10, Intisyarat Nasir Khusruw, Teheran, Cetakan Pertama, 1364 S; Sultan Muhammad Gunabadi, Tafsir Bayân al-Sa’âdah fi Maqâmat al-‘Ibâdah, jil. 4, hal. 281, Muassasah al-A’lami lil Mathbu’at, Beirut, Cetakan Kedua, 1408 H.
[4]. Mubarak bin Muhammad Ibnu Atsir Jarzi, al-Nihâyah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsâr, Riset dan Edit oleh Mahmud Muhammad Thanahi dan Thahir Ahmad, jil. 2, hal. 61, Muassasah Mathbu’ati Ismailiyan, Qum, Cetakan Keempat, 1367 S.
[5]. Mir Sayid Ali Hairi Tehrani, Muqatanayat al-Durar wa Multaqath al-Tsamar, jil. 12, hal. 256, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1377 S.
[6]. Wahbah bin Mustafa Zuhaili, al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, jil. 30, hal. 461, Dar al-Fikr al-Ma’ashir, Beirut, Damaskus, Cetakan Kedua, 1418 H; Nizhamuddin Hasan bin Muhammad Naisyaburi, Tafsir Gharâib al-Qur’an wa Raghaib al-Furqan, Riset oleh Syaikh Zakariyyah Umairat, jil. 6, hal. 594, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, Cetakan Pertama, 1416 H.
[7]. Sayid Mahmud Thaliqani, Partu az Qur’ân, jil. 4, hal. 304, Syarkat Sahami Intisyar, Teheran.

Punya Pertanyaan atau Komentar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *