Selamat Datang di situs TanyaIslam.Net. Web ini berisi kumpulan tanya jawab seputar masalah dalam keislaman dan Anda pun bisa ikut mengirimkan pertanyaan kepada kami..

banner2
banner3
banner1


PERTANYAAN

Apa yang dimaksud dengan ilmu laduni?


JAWABAN

Kata “laduni” dalam bahasa Arab bermakna di sisi[1] dan ya-nya adalah huruf ya nisbah. Yang dimaksud dengan ilmu laduni adalah sebuah ilmu yang diterima tanpa perantara dan media material dari Allah Swt.[2]
Sesuai dengan penjelasan sebagian penulis, “Ilmu laduni adalah ilmu yang dipelajari oleh seorang hamba dari Allah Swt tanpa perantara manusia atau malaikat. Terma ini adalah sebuah terma yang diadopsi dari al-Quran dimana Allah Swt berfirman, “
Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” dimana para ahli makrifat mengetahui dan memahami sesuatu melalui pengajaran Ilahi dan pemahaman Rabbani bukan melalui perantara dalil-dalil rasional dan bukti-bukti referensial.
Perbedaan antara ilmu laduni dan ilmu yakin adalah bahwa ilmu yakin adalah mencerap cahaya zat dan sifat Ilahi sementara ilmu laduni memahami makna-makna dan kalimat-kalimat dari Allah Swt tanpa perantara manusia. Ilmu laduni ini terbagi menjadi tiga, wahyu, ilham dan firasat.”[3]
Sebagian ahli makrifat dalam hal ini berkata, “Manusia sampai pada sebuah maqam dimana ia menjadi jelmaan (mazhar) nama mulia (ya man lâ yusghiluhu sya’n ‘an sya’n) dan manusia seperti itu memiliki ruh kudus dalam dirinya yang telah menempuh perjalanan keempat dari empat perjalanan (asfar al-arba’ah) yaitu manusia sempurna dan penyempurna hamba-hamba Tuhan serta hati alam semesta serta imam keseluruhan. Ruhnya telah terukir dalam ruh qudsi hakikat-hakikat lauh mahfuzh dan menyampaikan apa yang diterima dari sisi Allah kepada makhluk Alah. Makna ini adalah makna yang kita sebut sebagai ilmu para duta Ilahi laduni.
Mengutip Hafizh:
Aku tidak mengeyam pendidikan formal dan juga tidak (belajar) menulis
(namun) Belajar inti persoalan (kemudian) menjadi guru.[4]

[1]. Khalil bin Ahmad Farahidi, Kitâb al-‘Ain, Riset dan edit Mahdi Makhzumi, Ibrahim Samarai, jil. 8, hal. 40, Qum, Hijrah, Cetakan Kedua, 1410 H.
[2]. Mulla Ahmad Naraqi, hal. 499, Cetakan Pertama, 1378, “Yang dimaksud dengan ilmu laduni adalah ilmu tentang zat dan sifat Allah tanpa media perantara.”
[3]. Sayid Ja’far Sajjadi, Farhang Ma’ârif Islâmi, jil. 2, hal. 1336, Tehran, Danesygah Tehran, Cetakan Ketiga, 1373 S.
[4]. Hasan Hasan Zadeh Amuli, Nusush al-Hikam bar Fusush al-Hikam, Tehran, Raja, Cetakan Kedua, 1375 S.

Punya Pertanyaan atau Komentar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *